Rabu, 07 Januari 2009

> Sejarah Prima Tani

TONGGAK SEJARAH PEMBANGUNAN PERTANIAN



Ditulis oleh Abdurachman Adimihardja (Tim Teknis PRIMA TANI.)
Thursday, 22 February 2007
Dalam pidato pelepasan 200 Pemandu Teknologi, pada tgl 16 Februari 2007 yang lalu di Auditorium Departemen Pertanian, Menteri Pertanian RI menyatakan bahwa Implementasi PRIMA TANI merupakan tonggak sejarah pembangunan pertanian Indonesia, yang berawal dari desa. Benarkah demikian ?
Kalau kita kilas balik ke belakang, salah satu tonggak yang masih tampak jelas adalah Revolusi Hijau, yang direalisasikan melalui Program Bimbingan Massal (BIMAS). Program ini bertujuan meningkatkan produksi padi nasional, dengan menerapkan Panca Usaha, yaitu benih unggul, pengolahan tanah yang baik, pemupukan, pengendalian hama/penyakit, dan tandur jajar. Kita bersyukur kepada Allah SWT, bahwa program tersebut terbukti berhasil meningkatkan produksi beras secara signifikan, sehingga pada tahun 1984 Indonesia mencapai Swa Sembada Beras. Namun, kita pun harus waspada bahwa program tersebut membawa dampak negatif, antara lain berupa penggunaan agrokimia yang berlebihan, sehingga menimbulkan pencemaram lingkungan. Selain itu, perlu pula diperhatikan apakah produksi padi yang tinggi tersebut sudah mensejahterakan petani ? .
Berbeda dengan Bimas, tujuan utama PRIMA TANI adalah meningkatkan pendapatan petani, memperbaiki system pertanian, dan melestarikan lingkungan, bukan meningkatkan produksi komoditas pertanian tertentu setinggi mungkin. Komoditas uggulan dapat dipilih lebih dari satu, dalam pola tumpang sari atau tanaman-ternak, dan sebagainya. Boleh saja produktivitas komoditas pertanian pada tingkatan sedang-sedang saja, asal usaha tani dilaksanakan secara efisien, dan mampu meningkatkan pendapatan petani. Sebagai contoh, di lahan pasang-surut, dikenalkan penanaman jeruk dalam system surjan. Produktivitas padi mungkin saja tidak optimal karena sebagian lahan ditanami jeruk, namun pendapatan petani dapat meningkat 300-400 %, dari penjualan buah jeruk tersebut.
Bantuan utama yang diberikan kepada petani dalam PRIMA TANI adalah teknologi inovatif dan kelembagaan agribisnis pedesaan. Inovasi tersebut didiseminasikan secara partisipatif, tidak bersifat komando atau top-down. Inovasi pertanian, yang berupa komoditas pertanian unggulan, teknologi maju dan kelembagaan pendukung, tidak ditentukan oleh para pejabat Departemen Pertanian, tetapi dipilih oleh petani sendiri. Mereka memilih komoditas dan teknologi sesuai kemauan dan kemampuan mereka sendiri, dan tentu saja memperhatikan kesesuaiannya dengan kondisi sumberdaya lahan, air, iklim dan aspek social-ekonomi-budaya. Pemilihan inovasi tersebut dilaksanakan melalui 'Participatory Rural Appraisal' yang dilaksanakan bersama-sama oleh Peneliti, Penyuluh, Petani, Pemda dan pemangku kepentingan pembangunan lainnya.
Dalam PRIMA TANI, masyarakat desa yang pada umumnya sudah mahir bertani, diajak bekerja-sama untuk memanfaatkan potensi desa yang mereka miliki, berupa sumberdaya lahan, air, anasir iklim, ketrampilan, budaya local, dan sebagainya. Sistem pertanian 'subsintance' dan kurang efisien, secara bertahap diubah kearah 'agribisnis industrial pedesaan' atau 'agro-industri', dengan Sistem Usaha Intensifikisasi dan Diversifikasi.
Pencapaian tujuan PRIMA TANI jelas tidak mudah, dan tentunya memerlukan kerja keras baik dalam perencanaan, maupun implementasi lapangan. Itulah sebabnya Menteri Pertanian menugaskan 200 Peneliti Senior untuk bekerja di pedesaan, dalam rangka membantu implementasi PRIMA TANI, sekaligus membantu perencanaan pembangunan pertanian daerah. Di samping itu, kesempatan berada dan berbaur dengan masyarakat juga diharapkan dapat digunakan oleh para peneliti tersebut untuk mempelajari lebih mendalam permasalahan pertanian dan masyarakat tani dalam mendukung pembangunan pertanian.
Kalau PRIMA TANI diterapkan sesuai konsepsi yang telah disepakati bersama, dan dilaksanakan dengan disiplin tinggi serta kerja-sama sinergis semua pemangku-kepentingan, maka tepat sekali pernyataan Menteri Pertanian tersebut di atas, bahwa Tonggak Baru Sejarah Pembangunan Pertanian telah ditorehkan. Pemangku kepentingan pembangunan pertanian tidak hanya Departemen Pertanian, tetapi bersama-sama dengan Departemen lain yang terkait, Pemerintah Daerah dan masyarakat tani, yang seyogyanya bersinergi melaksanakan berbagai program pembangunan yang terintegrasi dalam membangun wilayah pedesaan.




Rapat Koordinasi dan Sinkronisasi Pelaksanaan Prima Tani


Ditulis oleh http://www.soil-climate.or.id/
Thursday, 22 February 2007
Kepala Badan Litbang Pertanian Dr. Achmad Suryana, memberikan sambutan dan arahan sekaligus membuka acara Rapat Koordinasi dan Sinkronisasi Pelaksanaan Prima Tani. Rakor Prima Tani ini diselenggarakan pada tanggal 14-15 Februari 2007 di Gedung Dr. Ismunadji, Kampus Penelitian Pertanian Cimanggu Bogor.
Dalam acara tersebut di capai Rumusan Sementara
RUMUSAN SEMENTARARAPAT KOORDINASI DAN SINKRONISASI KEGIATAN PRIMA TANI 2007
Bogor, 14-15 Februari 2007 Prima Tani telah dijadikan program pembangunan pertanian tingkat Departemen Pertanian sesuai dengan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 496/Kpts/OT.160/9/2006. Dalam kaitan tersebut, lokasi Prima Tani telah diperbanyak dari 33 Desa pada tahun 2006 menjadi 201 Desa di 200 Kabupaten/Kota yang tersebar di 33 Provinsi. Sejalan dengan perluasan lokasi Prima Tani tersebut, Menteri Pertanian telah menugaskan 200 tenaga Pemandu Teknologi yang tugas utama membantu perencanaan pembangunan pertanian di daerah dan mendampingi pengembangan laboratorium agribisnis Prima Tani. Penugasan tersebut tertuang dalam Surat Penugasan Menteri Pertanian Nomor 11/KP.340/M/1/2007, tanggal 17 Januari 2007. Selain itu, Kepala Badan Litbang Pertanian telah mengeluarkan keputusan No. 211/Kpts/OT.160/3/10/2006 tanggal 30 Oktober 2006 tentang Pembentukan Tim Penyelia dan Tim Teknis Pusat PRIMA TANI. Untuk meng-koordinasikan pelaksanaan kegiatan Prima Tani di lingkup BBSDLP, telah dikeluarkan surat keputusan Kepala BBSDLP No. 14/OT.160/J.6/1/2007 tentang Pembentukan Tim Prima Tani lingkup BBSDLP.
Berkaitan dengan tugas-tugas tersebut, perlu adanya Rapat Koordinasi dan Sinkronisasi dalam Pelaksanaan Prima Tani tahun 2007 lingkup BBSDLP dan 4 BPTP yang dibina, serta Pemandu Teknologi. Rakor dibuka oleh Ka Badan Litbang Pertanian, yang dihadiri oleh 90 orang peserta terdiri dari pejabat eselon II lingkup Badan Litbang Pertanian, 26 orang Pemandu Teknologi lingkup BBSDLP, 13 orang dari BPTP yang dibina (NAD, Bengkulu, Kalteng dan Bali), Tim Penyelia dan Tim karakterisasi lahan lingkup BBSDLP. Rakor tersebut menghasilkan beberapa rumusan sebagai berikut:
1.
Kepercayaan yang cukup besar dari Menteri Pertanian terhadap Badan Litbang Pertanian dalam pengembangan pertanian pedesaan melalui Prima Tani perlu diapresiasi dan dijadikan tantangan untuk terus berprestasi, sehingga dukungan seluruh unit kerja lingkup Badan Litbang Pertanian sangat diperlukan.
2.
Prima Tani telah mendapat apresiasi positif dari seluruh Pemerintah Kabupaten/ Kota. Oleh sebab itu, keberhasilan Prima Tani akan terlihat optimal apabila pemerintah daerah dan stakeholders lainnya ikut merasa memiliki, serta terjadi sinergisme program antara seluruh stekholders di wilayah masing-masing.
3.
Komunikasi dan keseragaman persepsi tentang peran, tugas, dan misi pelaksana kegiatan Prima Tani, khususnya lingkup Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, dan umumnya Badan Litbang Pertanian sangat diperlukan. Komunikasi dua arah dan intens dengan BPTP sangat menentukan.
4.
Tim Penyelia diharapkan dapat berperan aktif dalam kelancaran dan keberhasilan pelaksanaan Prima Tani, khususnya di masing-masing BPTP/daerah binaannya. Dalam hal ini komunikasi dua arah dan intens antara Tim Penyelian dengan BPTP perlu terus ditingkatkan, sehingga semua permasalahan yang muncul dapat diatasi bersama.
5.
Pemandu teknologi merupakan komponen sumberdaya yang sangat strategis, terutama dalam membantu penyusunan perencanaan program pembangunan pertanian kabupaten/kota dan membantu BPTP dalam menyusun Rancang Bangun Laboratorium Agribisnis di lokasinya masing-masing.
6.
Pemandu Teknologi merupakan ujung tombak dan harus mempunyai tekad bulat untuk melaksanakan tugas demi suksesnya program Prima Tani. Keahlian dan ”skill” tentang ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) masing-masing pemandu teknologi agar diimplementasikan dengan baik, termasuk teknologi pertanian di luar bidang keahliannya, yang dapat diperoleh melalui koordinasi dengan Balit-Balit lain lingkup Badan Litbang Pertanian.
7.
Pemandu teknologi dalam melaksakan tugasnya berada di bawah koordinasi dan bertanggungjawab langsung kepada kepala BPTP serta diketahui oleh atasan langsung/kepala Balai yang bersangkutan. Oleh karena itu, pemandu teknologi dapat melakukan koordinasi secara pro aktif dengan BPTP, dan bersama-sama dengan BPTP dan pemerintah kabupaten/kota dapat menyusun kegiatan, jadwal, serta membuat mekanisme kerja secara jelas (ouput) dan berjenjang.
8.
Pemandu teknologi dalam melaksanakan tugasnya perlu dibekali petunjuk teknis teknologi pengelolaan sumberdaya lahan yang dihasilkan Balai-Balai lingkup BBSDLP. Teknologi pengelolaan sumberdaya lahan dalam petunjuk teknis tersebut perlu dipilih yang sudah siap terap untuk pengguna, termasuk untuk seluruh pemandu teknologi dan manajer laboratorium agribisnis.
9.
Pemandu teknologi harus proaktif dengan tugasnya meskipun permasalahan yang dihadapi di lokasi Prima Tani tidak sesuai dengan bidang keahliannya. Koordinasi langsung dengan Balit terkait merupakan jalan keluarnya.
10.
Pemandu teknologi terjun ke daerah perlu disesuaikan dengan jadual kegiatan BPTP dan pemerintah kabupaten/kota (Musrembang), sehingga program perencanaan pembangunan wilayah di daerah tersebut dan pelaksanaannya merupakan yang terbaik.
11.
Pemahaman sebagian pemandu teknologi terhadap konsep rancang bangun laboratorium agribisnis masih beragam, sehingga perlu dilakukan pendalaman dan diskusi lebih lanjut antara pemandu dan tim teknis untuk menyamakan persepsi konsep tersebut sebelum para pemandu terjun ke lapangan.
12.
Dalam penyusunan rancang bangun laboratorium agribisnis dan rekomendasi teknologi pertanian diperlukan data dan informasi sumberdaya lahan melalui karakterisasi dan identifikasi sumberdaya lahan calon lokasi Prima Tani. Namun, sebelum pelaksanaan karakterisasi dan identifikasi sumberdaya lahan di lapangan, perlu berkoordinasi dengan BPTP terkait untuk mendapatkan informasi hasil PRA di masing-masing lokasi Prima Tani, khususnya tentang komoditas unggulan dan permasalahan sumberdaya lahan, sosial ekonomi, dan pasar/kelembagaan yang dihadapi di desa tersebut, sehingga pada saat ke lapangan permasalahan tersebut dapat diamati lebih cermat.
13.
Karakterisasi dan identifikasi sumberdaya lahan dilakukan menggunakan metode quick asssesment, yang menghasilkan informasi awal sumberdaya lahan di lokasi Prima Tani, untuk selanjutnya dapat dijadikan sumber informasi dasar dalam penyusunan rancang bangun laboratorium agribisnis. Akan tetapi, metode tersebut masih memerlukan perbaikan dan penyederhanaan dalam beberapa bagian, karena tidak setiap pengguna mampu memahami seluruh informasi yang dihasilkan.
14.
Sebagian besar lokasi Prima Tani yang dibina BBSDLP telah menunjukkan perkembangan positip dan dapat dijadikan lokasi percontohan untuk lokasi lainnya. Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari dukungan penuh pemerintah Kabupaten/Kota, terutama dengan adanya sinergi program antara program Prima Tani dan program pertanian di masing masing pemerintah Kabupaten/Kota. Meskipun demikian, masih terdapat beberapa lokasi laboratorium agribisnis yang perlu ditangani secara lebih intensif dan sinergis antara BPTP, Tim Penyelia, Pemandu Teknologi, dan Balit komoditas terkait.

Bogor, 15 Februari 2007
TIM PERUMUS


Workshop Evaluasi Kegiatan Prima Tani 2006 dan Rencana 2007



Ditulis oleh Administrator
Thursday, 28 September 2006
Pada tahun 2007 Badan Litbang Pertanian merencanakan penambahan lokasi pelaksanaan Prima Tani sehingga total menjadi 201 lokasi yang meliputi 200 kabupaten/kota dan 33 Provinsi.
Dalam rangka pemantapan dan persiapan Prima Tani 2007, Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian bertempat di Hotel Lembah Hijau, Ciloto-Cianjur, pada tanggal 19-22 September 2006, menyelenggarakan Workshop Evaluasi Kegiatan Prima Tani 2006 dan Rencana 2007.
Secara umum tujuan Workshop adalah untuk mengevaluasi dan memantapkan pelaksanaan Prima Tani tahun 2006 di 33 lokasi dan rencana pelaksanaan tahun 2007 di 201 lokasi, serta sinkronisasi pelaksanaan antara UK/UPT lingkup Badan Litbang Pertanian (BPTP, Balit komoditas dan Puslit/BB).
Workshop sekitar 160 orang terdiri dari para Kepala Puslitbang/Pusat/Balai Besar/Direktur Eksekutif LRPI, Kepala Pusat Pengembangan SDM Pertanian, Kepala Bagian Perencanaan dan Kerjasama, Iptek dan Humas, Kepala Bidang Program dan Evaluasi Puslitbang/Puslit/BB/LRPI, Kepala Balai/ Loka Penelitian, Kepala BPTP, Kepala Pusat Penelitian lingkup LRPI, Penanggung Jawab Pembinaan kegiatan Prima Tani, Manager Laboratorium Agribisnis, Tim Teknis Pusat Prima Tani, Inspektorat Jenderal Pertanian.
Materi yang dibahas pada workshop tersebut meliputi: (1) Strategi dan Sinkronisasi Penyaluran Inovasi Pertanian Mendukung Prima Tani; (2) Perkembangan Implementasi Prima Tani; (3) Hasil Monitoring dan Evaluasi Prima Tani; (4) Strategi Implementasi Prima Tani 2007 (5) Revitalisasi Penyuluhan dan Pemberdayaan Kelompok Tani; (5) Optimalisasi Pemanfaatan Dana Dekon dan Pembantuan (6) Penjelasan Pelaksanaan PRA dan Rancangbangun Laboratorium Agribisnis; dan (7) Manajemen Prima Tani yang Akuntabel dan Bersih. Pada hari kedua, peserta akan dibagi menjadi 3 kelompok diskusi, masing-masing akan membahas tema yang berbeda yaitu (1) Lesson Learn Pelaksanaan PRA, Baseline Survei, dan Penyusunan Rancang Bangun Lab Agribisnis Tahun 2006 dan Rencana 2007; (2) Strategi Implementasi Prima Tani Tahun 2007 (Organisasi, SDM, Pemandu Teknologi, Pendanaan, dll); dan (3) Strategi dan Sinkronisasi Penyaluran Inovasi Pertanian Mendukung Prima Tani (BPTP/Balit/BB/Puslit).
Setelah melalui berbagai tahapan pemaparan dan diskusi diskusi dihasilkan rumusan untuk ditindak lanjuti, yaitu:
1.
Pemantapan Implementasi Prima Tani 2005/2006Evaluasi terhadap implementasi Prima Tani yang dimulai pada tahun 2005 dan 2006, antara lain menghasilkan kesimpulan bahwa kelemahan utama di lapangan adalah koordinasi dan sinkronisasi kegiatan dan pendanaan. Sebagai solusi diusulkan hal-hal sebagai berikut:
a.
Memperbaiki jaringan kerja antar lembaga internal dan eksternal Badan Litbang Pertanian
b.
Meningkatkan sosialisasi dan advokasi Prima Tani, baik di tingkat Pusat (Departemen), Provinsi dan Kanbupaten.
c.
Membangun dan menguatkan komitmen untuk melaksanakan Prima Tani antar komponen penelitian, penyuluhan, lembaga pelayanan jasa, dan pelaku agribisnis (pengusaha dan petani) dalam bentuk sharing program dan pendanaan.
d.
Memperbaiki mekanisme kontrol (monev) untuk meningkatkan akuntabilitas Prima Tani khususnya dan Badan Litbang pada umumnya.
e.
Penjadwalan kegiatan Prima Tani pada sisa tahun anggaran 200, baik tingkat pusat maupun setiap Laboratorium Agribisnis.
2.
Strategi Implementasi Prima Tani Tahun 2007
2.1.
Perencanaan Pada tahap perencanaan, beberapa kegiatan yang perlu dilakukan meliputi penyusunan RDHP, sosialisasi/promosi, Training of Trainers (TOT) bagi calon manager dan tenaga pemandu teknologi, penyediaan dana dan penyempurnaan buku panduan/juklak/juknis
(i)
Penyusunan RDHP (Rencana Diseminasi Hasil Penelitian/Pengkajian)
(a)
Penyusunan RDHP seyogyanya mengikuti satu acuan standar. Oleh karena itu, perlu segera disusun Juknis penyusunan RDHP Prima Tani, dan harus dapat diselesaikan pada minggu ke dua bulan Oktober. 2006
(b)
Jumlah RDHP di setiap BPTP berkisar antara 1-4 buah, tergantung kepada jumlah lokasi (kabupaten) Prima Tani, jumlah agroekosistem dan kemampuan pengelolaan (managability). Penanggung-jawab RDHP ditetapkan oleh Kepala BPTP. Untuk setiap lokasi Prima Tani disusun RODHP tersendiri, dengan Manager Lab. Agribisnis sebagai penanggung-jawabnya.
(ii)
Pemilihan LokasiLokasi definitif (kabupaten/kota dan agroekosistem) telah ditetapkan sebanyak 200 buah. Selanjutnya perlu ditetapkan lokasi desa/Lab. Agribisnis, dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
(a)
Memiliki peluang keberhasilan, ditinjau dari segi sunberdaya alam dan SDM.
(b)
Respon positif masyarakat desa/tani
(c)
Respon positif pemerintah Kabupaten dan Provinsi
(d)
Kesesuaian dengan kebijakan dan program pemerintah daerah
(e)
Potensi komoditas unggulan yang akan dikembangkan sesuai dengan komoditas unggulan nasional atau daerah
(f)
Aksesibilitas (Infrastuktur transportasi dan komunikasi) Pemilihan Lokasi dapat dilakukan melalui quick assessment yang dilakukan oleh peneliti Balit/Puslit/ BB/LRPI dan BPTP.
(iii)
Identifikasi sumberdaya lahan. Apabila ketersediaan dana dan SDM kurang memadai untuk melaksanakan pemetaan atau pewilayahan komoditas di 168 lokasi Prima tani, maka identifikasi SDL dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan quick assessmet. BBSDLP bertanggung-jawab atas pelaksanaan identifikasi SDL dan penetapan methoda quick assessment yang akan digunakan.
(iv)
Sosialisasi/Promosi Sosialisasi/Promosi Prima Tani merupakan tahapan kegiatan perencanaan yang sangat penting untuk memperkenalkan konsep dan merencanakan implementasi Prima Tani. Kegiatan ini perlu dilaksanakan di tingkat pusat, provinsi dan kabupaten.
a.
Di tingkat pusat, sosialisasi dilaksanakan pada acara Rapim Deptan, pertemuan para pejabat Eselon 1 dan 2 Deptan, Interdep (DN, Bappenas, Kantor Menteri Negara Daerah Tertinggal, Kantor Menteri Negara Koperasi dan UMKM, dll..
b.
Di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, sosialisasi/promosi perlu memfungsi-kan Komisi Teknologi, apabila masih aktif.
c.
Materi sosialisasi disiapkan oleh Tim Teknis dan harus diselesaikan akhir bulan.. Materi dikaitkan dengan isu dan program pembangunan pertanian daerah.
d.
Menggunakan multi media (cetak dan elektronik) dan multi metode (contoh: sosialisasi dan lokakarya)
(v)
TOT Bagi Calon Manager dan Pemandu Teknologi Dalam rangka mempersiapkan SDM pelaksana Prima Tani, pada bulan November 2006 akan diselenggarakan TOT selama 3 hari bagi 200 calon Manager Laboratorium Agribisnis, yang berasal dari BPTP, dan selama 4 hari bagi 200 calon pemandu teknologi, yang berasal dari BB/Balit/Lolit. TOT akan dilaksanakan secara bertahap dengan peserta berjumlah 50 orang setiap tahap, namun akan diusahakan ada kelas yang berjalan secara paralel, agar total waktu pelaksanaan lebih singkat.Pemandu teknologi ditugasi untuk membantu pemerintah daerah dalam perencanaan pembangunan pertanian wilayah, oleh karena itu selain materi Prima Tani, kepada`mereka akan diberikan juga materi latihan yang berkaitan dengan perencanaan pembangunan, .
(vi)
Pendanaan Pendanaan dalam rangka pelaksanaan Prima Tani bersumber dari: DIPA Eselon I Deptan, Dana Dekon dan Dana Pembantuan, Dana Pemerintah Daerah, Dana Swasta. Dan Dana Petani Dana penyelenggaraan TOT dan PRA bersumbaer dari Sekretariat Badan Litbang Pertanian, Balit dan BPTP. Untuk memenuhi kebutuhan dana pada tahun 2006 ini, diperlukan revisi anggaran di UPT/UK, yang harus didasari dengan payung kebijakan dari Badan Litbang Pertanian, dengan syarat bahwa pemanfaatan dana tersebut tidak mengganggu kinerja tahun 2006.
(vii)
Buku Panduan dan Petunjuk Teknis Dalam rangka menjaga kesamaan persepsi dan memfasilitasi kelancaran implementasi Prima Tani, maka berbagai panduan dan petunjuk teknis telah siap diterbitkan, diperbanyak dan disebarluaskan. Panduan yang telah siap meliputi : Rancangan Dasar Prima Tani, Pedoman Pelaksanaan Prima Tani, Pedoman Penyusunan Berbagai Petunjuk Teknis Prima Tani (Laboratorium dan Klinik Agribisnis, Inovasi Teknologi dan Kelembagaan), Pedoman Umum Monitoring dan Evaluasi Prima Tani
2.2.
Pengorganisasian
(i)
Struktur organisasi Prima Tani ditetapkan sebagai salah satu instrumen program Deptan (Ketahanan Pangan, Peningkatan Nilai Tambah dan Daya Saing, serta Kesejahteraan Masyarakat). Pengorganisasian Prima Tani Tingkat Pusat telah selesai dilakukan. Sedangkan pengorganisasian Tingkat Daerah telah dirancang dan akan ditindaklanjuti. Organisasi Prima Tani Tingkat Pusat telah ditetapkan dalam SK Mentan No. 496/Kpts/OT 160/9/2006 dan terdiri dari Tim Pembina dan Tim Pelaksana (Pelaksana Harian dan Tim Teknis Pusat). Selain itu, organisasi Prima Tani Tingkat Pusat diusulkan untuk dilengkapi dengan Penyelia dan Tim Monev (Inspektorat Jenderal dan Badan Litbang). Sedangkan organisasi Tingkat Daerah meliputi:
a.
Propinsi
*
Pengarah: Gubernur/Wakil Gubernur/Sekretaris Daerah
*
Tim Pembina: Bappeda dan Unsur Eselon 2 terkait
*
Tim Teknis: Unsur BPTP, Balit, PT atau Komisi Teknis
b.
Kabupaten
*
Pengarah: Bupati/Wakil Bupati
*
Tim Pembina: Bappeda dan Eselon 2 terkait
*
Tim Teknis: Manager, Koordinator Teknis, Koordinator Kelembagaan dan Koordinator Diseminasi dari Lab. Agribisnis, Penyuluh dan Kasubdin atau Komisi Teknis
(c)
Laboratorium Agribisnis
*
Manager (Peneliti/Penyuluh dari BPTP)
*
Koordinator Teknis (Balit/BB/BPTP)
*
Koordinator Kelembagaan (Balit/BB/BPTP)
*
Koordinator Diseminasi(Balit/BB/BPTP)
*
Klinik Agribisnis
a.
Ketua : Penyuluh
b.
Sekretaris : Penyuluh
c.
Seksi-seksi: Petani
d.
Konsultan (Peneliti/Penyuluh)
(ii)
SDM Pelaksanaan Prima Tani harus didukung oleh SDM yang berkualitas, sesuai dengan tugas dan fungsinya, dengan kriteria tertentu. Beberapa hal yang harus diperhatikan :
(a)
Di setiap lokasi/desa Prima tani, terdapat 4-5 orang pelaksana. Apabila tidak dapat terpenuhi, maka BPTP dapat melakukan outsourcing dari PT, Dinas atau mahasiswa setempat, dengan tetap memperhatikan aturan penggunaan dana yang berlaku.
(b)
Tenaga pemandu teknologi yang merangkap sebagai tenaga advokasi pembangunan pertanian wilayah, yang berasal dari BB/Balit/Lolit, harus memenuhi kriteria pendidikan minimal S2, memiliki wawasan luas, dan diusulkan oleh Pejabat Es II terkait, untuk selanjutnya di tugaskan dengan SK Penugasan oleh Kepala Badan Litbang Pertanian.
(c)
Manager Lab. Agribisnis adalah staf BPTP, ditetapkan oleh Kepala BPTP, dengan mempertimbangkan pendidikan minimal S1, dan kemampuan managerial dan hubungan sosial yang memadai.
2.3.
Implementasi Implementasi Prima Tani mengikuti beberapa tahapan kegiatan secara berurutan dan dijadwal secara ketat. BPTP bertugas menyusun kegiatan di masing-masing lokasi/desa Prima tani, dan dibuatkan Jadwal Palang. Kegiatan Prima Tani dimaksud meliputi:
(i)
Pelaksanaan Participatory Rural Appraisal (PRA), oleh BPTP bersama mitra kerja, sesuai petunjuk Teknis PRA. Mengingat keterbatsan dana, maka pendampingan oleh Tim Teknis diutamakan untuk BPTP Bangka Belitung, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, Papua dan PTP Irian Jaya Barat. Penyusunan jadwal kegiatan PRA menurut provinsi harus segera dibuat. Pelaksanaan PRA untuk 168 lokasi Prima Tani baru, sebaiknya dilaksanakan pada tahun 2006, sebagai bagian dari strategi pelaksanaan Prima Tani 2007
(ii)
Penyusunan Rancang Bangun Laboratorium Agribisnis.
(iii)
Lokakarya Pemantapan Rancang Bangun Laboratorium Agribisnis.
(iv)
Pelaksanaan Base Line Survey.
(v)
Penyusunan Road Map yang memuat tujuan, tahapan inovasi teknologi dan kelembagaan, serta tahapan kegiatan.
(vi)
Pembentukan Klinik Agribisnis.
(vii)
Penerapan Inovasi Teknologi dan Kelembagaan Agribisnis Pedesaan..
(viii)
Pembinaan oleh Es I dan Es II
(ix)
Koordinasi antar pelaksana yang diselenggarakan dalam berbagai forum pertemuan di Pusat dan Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota)
2.4.
Monitoring dan Evaluasi Monev dilaksanakan secara reguler, berupa laporan dan kunjungan lapangan. Kunjungan lapangan dilakukan minimal 1 kali dalam 1 tahun di sebagian lokasi Prima Tani, yang ditentukan secara acak berdasarkan agroekosistem. Pelaksaannya dilakukan oleh Tim Monev Badan Litbang, mengacu pada Panduan Monev yang didalamnya mencantumkan kriteria dan cara menilai Prima Tani. Selain itu, Monev Prima Tani dilakukan juga oleh Inspektorat Jenderal Deptan, yang bekerja secara independent.
3.
Sinkronisasi dan Koordinasi BPTP, Balit Komoditas dan Puslit/BB/LRPI
3.1.
Mekanisme Penyediaan Inovasi Teknologi (Benih, Bibit, Alsin) Telah disepakati beberapa hal penting berkaitan dengan penyediaan inovasi teknologi, yang harus segera ditindak lanjuti, sebagai berikut:
(a)
Teknologi yang didiseminasikan dalam Prima Tani diprioritaskan yang berasal dari Badan Litbang Pertanian.
(b)
Guna memperoleh teknologi yang dibutuhkan, secara administrasi BPTP mengajukan permintaan kepada Balit dengan tembusan surat ke Puslitbang/BB. Untuk Puslit di bawah lingkup LRPI, surat permintaan ditujukan langsung ke Direktur Eksekutif LRPI.
(c)
BB/Balit/Lolit menyediakan inovasi teknologi (benih sumber, alsin, pasca panen, kumpulan teknologi, dan lainnya) sesuai kemampuan Balit/BB. Dana pengiriman benih sumber dibebankan ke BPTP.
(d)
Untuk sumber teknologi lainnya (seperti alsintan, teknologi pasca panen, identifikasi sumberdaya lahan dan air), maka prototipe atau percontohan serta tenaga ahlinya disediakan oleh BB/Balit/Lolit, sedangkan perbanyakannya dilakukan dan dibiayai oleh BPTP
3.2.
Mekanisme Penyaluran Inovasi Beberapa kesepakatan dalam penyaluran inovasi adalah sbb:
(a)
Penyaluran Informasi teknologi dilakukan melalui berbagai media komunikasi (media elektronik dan media cetak)
(b)
Informasi dan komunikasi teknologi dari Balit dapat diakses ke website Prima Tani.
(c)
Pengawalan teknologi dari BB/Balit/Lolit tergantung kebutuhan BPTP dan kemampuan BB/Balit/Lolit, tidak setiap kegiatan harus dihadiri oleh BB/Balit/Lolit, diutamakan kepada kegiatan PRA dan penyusunan rancang bangun lab agribisnis




Rapat Kerja Persiapan Implementasi Prima Tani 2007



Ditulis oleh Administrator
Tuesday, 29 August 2006
Seiring dengan pandangan positip atas konsep dan implementasi Prima Tani tahun 2005 dan 2006 di 33 lokasi, Departemen Pertanian memberi kepercayaan kepada Badan Litbang Pertanian untuk memperluas cakupan implementasi Prima Tani menjadi di 200 Kabupaten/Kota dan 33 Provinsi pada tahun 2007.
Kepercayaan tersebut tidak lepas dari jerih payah seluruh komponen Badan Litbang Pertanian dalam menerapkan inovasi teknologi dan kelembagaan langsung ke petani/kelompok tani di pedesaan dan mewujudkan paradigma Badan Litbang Pertanian, yaitu penelitian untuk pembangunan.
Sebagai upaya untuk menyamakan persepsi dan mematangkan persiapan implementasi Prima Tani tahun 2007 dengan fokus pada aspek manajemen, pada tanggal 31 Juli 2006 bertempat di Hotel Jaya Raya, Cipayung, dilaksanakan Rapat Kerja “Persiapan Implementasi Prima Tani Tahun 2007”. Rapat kerja diselenggarakan oleh Sekretariat Badan Litbang Pertanian dan BB P2TP dan dibuka secara langsung oleh Kepala Badan Litbang Pertanian. Pertemuan ini dihadiri 180 orang yang terdiri atas Eselon 2 dan Eselon 3 Badan Litbang Pertanian, nara sumber dari Inspektorat Jenderal Departemen Pertanian dan peneliti senior dari Badan Litbang Pertanian, serta Tim Teknis Pusat Prima Tani.
Materi bahan diskusi meliputi (1) Apresiasi Implementasi Prima tani Tahun 2005 dan 2006 disampaikan oleh Inspektur II Itjen Deptan yang dalam kesempatan tersebut diwakili oleh Ir. Alwi Munsyir, MS; (2) Rencana Prima Tani 2007 disampaikan oleh Kepala BB P2TP (Dr. Udin S. Nugraha); dan (3) Strategi Implementasi Prima tani Tahun 2007 disampaikan oleh Ketua Tim Teknis Pusat Prima Tani (Dr. Abdurachman Adimihardja). Rangkaian acara didominasi oleh diskusi yang menyangkut aspek perencanaan, organisasi dan staffing serta implementasi dan monev Prima Tani.
Sesuai arahan Menteri Pertanian untuk perluasan implementasi Prima Tani, menempatkan program Prima Tani harus tetap dilanjutkan dan dilaksanakan pada tahun 2007 (point of no return). Prima Tani tahun 2007 dapat diartikan juga sebagai Prima Tani Eskalasi. Untuk itu, penyamaan persepsi harus dibangun mulai dari hal-hal yang bersifat filosofis hingga praktikal. Demikian Kepala Badan Litbang Pertanian mengawali sambutannya. Beliau menegaskan bahwa untuk mempermudah pemahaman tentang konsep Prima Tani terdapat 4 kata kunci yang penting untuk diingat, yaitu: (1) Rintisan, Prima Tani sebagai model pengembangan pertanian di pedesaan. Pengertian ini mengandung implikasi bahwa pelaksanaannya harus ada time frame yang jelas sehingga harus ada exit strategy, harus ada terobosan dengan menggunakan inovasi pertanian, baik teknologi maupun kelembagaan, (2) Akselerasi diseminasi, Prima Tani berfungsi sebagai suatu proses untuk melakukan percepatan diseminasi inovasi teknologi dan kelembagaan. (3) Inovasi Pertanian, inovasi teknologi diimplementasikan langsung ke petani/kelompok tani. Sumber inovasi pertanian dalam Prima Tani tidak hanya dari Badan Litbang Pertanian, tetapi dapat juga berasal dari sumber lain termasuk indigenous knowledge. Inovasi tersebut bersifat komprehensif, tetapi tetap mampu menjawab masalah spesifik dalam simpul-simpul sistem agribisnis, dan (4) Stakeholders/sasaran/target beneficieries/pengguna dilibatkan secara aktif di lapangan.
Ketua tim Teknis Prima tani (Dr. Abdurachman Adimiharja) menjelaskan panjang lebar mengenai strategi implementasi Prima Tani. Dikatakannya bahwa Prima Tani Eskalasi mengandung makna bahwa implementasinya memerlukan penyesuaian struktural dan fungsional dari setiap komponen yang terlibat, sehingga kesibukan dalam Prima Tani Eskalasi bukan lagi layaknya business as usual. Dengan adanya perluasan implementasi Prima Tani pada tahun 2007, maka posisi Prima Tani Eskalasi secara tidak langsung dimantapkan sebagai salah satu instrumen implementasi yang mengintegrasikan program Departemen Pertanian. Seperti diketahui program-program Departemen Pertanian terdiri dari (i) Ketahanan Pangan, (ii) Peningkatan Daya Saing, (iii) Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat, dan (iv) Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (PPK). Posisi ini mengandung implikasi adanya pergeseran/pelebaran tupoksi pelaksanaan Prima Tani dari tupoksi Badan Litbang Pertanian ke tupoksi Departemen Pertanian. Dalam hal ini, Badan Litbang Pertanian sebagai focal point Prima Tani Eskalasi.
Prima Tani Eskalasi tahun 2007 merupakan amanah/kepercayaan yang penuh tantangan sehingga perlu dilaksanakan secara profesional, bukan business as usual. Oleh karena itu, manajemen Prima Tani Eskalasi harus disiapkan secara matang. Manajemen persiapan tersebut meliputi aspek perencanaan, organisasi dan SDM, implementasi, serta monitoring dan evaluasi. (Subaidi-BBP2TP)




Workshop Pemantapan Kegiatan Prima Tani Tahun 2006



Ditulis oleh Administrator
Monday, 28 August 2006
Untuk mendorong keberhasilan dan keberlanjutan pelaksanaan kegiatan Prima Tani, Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BB Pengkajian) menyelenggarakan Workshop Pemantapan Kegiatan Prima Tani Tahun 2006 pada tanggal 5 – 11 Maret 2006 di Bogor. Kegiatan workshop ini terdiri dari dua kegiatan utama, yakni Training of Trainer (TOT) bagi 11 BPTP yang baru melaksanakan kegiatan Prima Tani pada tahun 2006 dan Workshop Pemantapan Petunjuk Teknis (Juknis) Rancang Bangun Laboratorium Agribisnis bagi 14 BPTP yang telah melaksanakan kegiatan Prima Tani sejak tahun 2005. Workshop dihadiri oleh Kepala BPTP beserta penanggungjawab Prima Tani di BPTP, para Kabid Program dan Evaluasi lingkup eselon II Badan Litbang Pertanian, serta Tim Teknis Pusat Prima Tani
Pada kesempatan pengarahannya kepala Badan Litbang Pertanian mengingatkan agar konsep Prima Tani dipahami benar secara utuh. Prima Tani outputnya model pengembangan pertanian dengan pendekatan agroekosistem, agribisnis dan kelembagaan. Pada kesempatan tersebut Kepala Badan Litbang menegaskan lagi posisi tugas BB Pengkajian untuk membina dan mengkoordinir BPTP. Di daerah jangan dikesankan bahwa Prima Tani merupakan programnya Badan Litbang Pertanian tapi merupakan program bersama untuk disukseskan bersama. Untuk itu, sejak awal agar melibatkan instansi terkait, LSM, pelaku agribisnis lainnya, maupun perbankan.
Setelah melalui berbagai pembahasan dan diskusi diperoleh rumusan sebagai berikut :
TOT Prima Tani
A.
Dalam pemilihan lokasi/calon lokasi Prima Tani perlu diperhatikan program pemerintah daerah yang ada (existing programe) maupun yang akan dilaksanakan, sehingga kegiatan Prima Tani merupakan bagian dari program daerah. Untuk itu, diperlukan adanya sosialisasi Prima Tani baik di tingkat propinsi maupun kabupaten. Selanjutnya, bersama dengan pemerintah daerah (instansi terkait), petani, organisasi masyarakat (LSM), dan pelaku agribisnis lainnya untuk mengevaluasi kelayakan lokasi yang akan dipilih tersebut.
B.
Desa terpilih merupakan representatif dari tipe agroekosistem yang dominan di tingkat propinsi dan kabupaten. Masyarakat desa terpilih merupakan desa yang cukup responsif terhadap inovasi, sehingga peluang dampak inovasi di desa terpilih akan relatif besar, karena secara umum teknologi yang diterapkan petani masih rendah.
C.
Lokasi strategis dilihat dari segi diseminasi inovasi harus (a) dekat dengan kawasan (sasaran) pengembangan yang cukup luas dan (b) aksesibilitas cukup baik agar mudah terlihat oleh masyarakat desa lain.
D.
Pemilihan komoditas yang akan dikembangkan adalah komoditas unggulan dari hasil PRA yang memiliki karakter sebagai berikut: mempunyai nilai ekonomi tinggi, berpeluang pasar cukup besar, dan dapat menjadi pemicu pengembangan pedesaan. Sedangkan komoditas lainnya sebagai pendukung yang terintegrasi dan sinergis satu sama lain. Hasil PRA dianalisis berdasarkan kelayakan teknis, ekonomis, lingkungan dan sosial budaya setempat.
E.
Dalam menyusun rancang bangun laboratorium agribisnis pendekatannya adalah pendekatan wilayah yang dibatasi oleh administrasi (1 desa/1 kecamatan), yang pengembangannya untuk menuju AIP dapat dilaksanakan secara bertahap.
F.
Tim pelaksana Prima Tani di propinsi/kabupaten dibentuk dengan SK gubernur/bupati, dan BPTP berfungsi sebagai vocal point. Struktur organisasi di tingkat propinsi dan kabupaten disusun dengan mempertimbangkan unsur koordinasi, sinkronisasi, dan sinergisme program Prima Tani baik di tingkat propinsi maupun kabupaten.
G.
Kelembagaan adalah alat untuk membantu petani dalam perolehan inovasi teknologi (penyediaan saprodi, penanganan pasca panen, pemasaran, dll) secara mudah dan efektif dalam pengembangan agribisnis.
H.
Dalam pengembangan kelembagaan terdapat 3 pola yaitu pola pasar, pola komunitas dan pola pemerintah, dengan fokus pelayanan kepada para anggota kelompok tani. Peluang pembentukan kelembagaan baru atau revitalisasi masih dimungkinkan sesuai dengan dinamika masyarakat di wilayah tersebut.
I.
Dalam sosialisasi pelaksanaan Prima Tani seyogyanya sejak awal perlu melibatkan Pemda terutama Bappeda baik di tingkat propinsi maupun kabupaten. Hal ini dimaksudkan agar BPTP dalam melakukan koordinasi dengan Pemda (instansi terkait lainnya), Bappeda berperan sebagai entry pointnya.
J.
BPTP sebagai fungsi negosiator dan fasilitator dalam melaksanakan kegiatan Prima Tani harus bersifat proaktif.
K.
BPTP sebagai ujung tombak Badan Litbang Pertanian yang berkaitan dengan tupoksinya, terutama dalam mendiseminasikan inovasi teknologi perlu dikuasai teknik komunikasi baik melalui media elektronik (radio, tv) maupun media cetak. Dalam media cetak (poster, leaflet), seyogyanya disajikan dengan cukup sederhana tetapi penampilannya sangat menarik perhatian pengguna. Dalam kaitanya ini, perlu menunjuk baik secara individu ataupun instansi lingkup Badan Litbang Pertanian menjadi “public awareness”.
L.
Dalam penyusunan juknis rancang bangun lab agribisnis di setiap wilayah Prima Tani akan disusun oleh suatu tim yang terdiri dari BPTP, stakeholder (pemda terkait), dinas terkait, dan pelaku agribisnis.

Workshop Pemantapan Petunjuk Teknis (Juknis) Rancang Bangun Laboratorium Agribisnis
A. Rancang Bangun Laboratorium Agribisnis
1.
Pembentukan dan pengembangan inovasi kelembagaan di Laboratorium Agribisnis (LA), perlu memperhatikan tujuh prinsip yaitu: kebutuhan, efektivitas, efisiensi, fleksibilitas, manfaat, pemerataan dan keberlanjutan. Dengan demikian elemen kelembagaan AIP tidak perlu dipaksakan harus ada, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan atau dibuat secara bertahap sesuai dengan prinsip-prinsip tersebut di atas, termasuk pola kelembagaan yang disesuaikan dengan kondisi sosial/ekonomi setempat.
2.
Dalam penyusunan rancang bangun Lab Agribisnis, yang perlu ditindak lanjuti secara lebih baik adalah jaringan kerjasama. Klinik Agribisnis perlu lebih dibenahi agar berfungsi secepat mungkin.
3.
Agar supaya kegiatan yang akan dilaksanakan dalam menunjang terbentuknya Laboratorium agribisnis (AIP), maka petunjuk teknis yang ada sekarang, beberapa hal masih perlu diperjelas/dirinci, sehingga tidak menimbulkan interpretasi yang berbeda-beda dan dapat digunakan secara operasional di lapangan.
4.
Dalam penyusunan rancang bangun Laboratorium Agribisnis, ada dua kegiatan utama yang perlu dukungan yaitu inovasi teknologi dan inovasi kelembagaan. Jenis-jenis inovasi teknologi dan kelembagaan yang ada di Laboratorium Agribisnis akan banyak ditentukan oleh potensi sumber daya lahan dan potensi masyarakat secara partisipatif melalui kegiatan PRA. Dalam hal ini indegeneous knowledge (kearifan lokal) merupakan hal penting dalam penyusunan Laboratorium Agribisnis. Inovasi teknologi dan kelembagaan dalam laboratorium agribisnis tidak bisa dipisahkan karena satu sama lain saling membutuhkan.
5.
Substansi dalam rancangan dasar Prima Tani yang berisi konsepsi dan model pengembangan, disain program dan implementasi, serta indikator kinerja Prima tani masih bersifat konsep atau terlalu filosofis. Oleh karena itu, rancangan tersebut perlu dijabarkan lebih lanjut terutama dalam prosedur, sistem dan proses, agar secara operasional mudah dilaksanakan dan membumi. Dalam hal ini perlu membangun bersama-sama, baik tim teknis pusat Prima Tani, Pembina, maupun penanggung jawab (BPTP).
B. Kelembagaan
6.
Dalam metodologi pemenuhan opsi kelembagaan dalam kegiatan Prima Tani, akan meliputi dua aktivitas yaitu pembentukan kelembagaan yang dibutuhkan dan peningkatan kinerja kelembagaan yang sudah ada. Jenis aktivitas pokok di dalam Prima Tani tersebut adalah pemenuhan teknologi software, input dan sarana produksi, modal usaha, tenaga kerja, manajemen pengelolaan usahatani, dan pemasaran hasil produksi.
7.
Kelembagaan Klinik Agribisnis di Laboratorium Agribisnis mutlak perlu dibentuk agar akses pemenuhan kebutuhan dalam membangun sistem agribisnis lebih mudah. Hal ini tidak mutlak bahwa klinik agribisnis harus di lokasi Prima tani, yang lebih penting adalah lokasi tersebut harus mudah dijangkau dan mudah diakses oleh petani/pelaku agribisnis..
8.
Dalam pengembangan kelembagaan terdapat tiga pola yaitu pola dasar, pola komunitas dan pola pemerintah dengan fokus pelayanan kepada para anggota kelompok tani. Peluang pembentukan baru atau revitalisasi masih dimungkinkan sesuai dengan dinamika masyarakat di wilayah tersebut.
C. Monitoring dan Evaluasi
9.
Kegiatan Prima tani di 14 propinsi telah berjalan, walaupun waktu dimulai, kecepatan, dan intensitas pelaksanaannya berbeda-beda antar BPTP. Hal ini terutama disebabkan terlambatnya pencairan anggaran disamping pemahaman terhadap konsep Prima tani (rancangan dasar, Pandum dan Juknis) yang belum sepenuhnya dikuasai oleh pelaksana di lapangan, baik oleh BPTP, stakeholders, maupun masyarakat yang terlibat dengan Prima Tani. Untuk itu intensitas pendampingan secara langsung atau tidak langsung oleh Pembina dan Tim Teknis perlu menjadi perhatian
10.
Berdasarkan pengalaman tahun 2005, pendampingan yang lebih intensif secara periodikperlu dilakukan terhadap BPTP yang baru akan melaksanakan Prima tani tahun 2006, terutama intensitas sosialisasi terhadap stakeholders di pusat dan di daerah serta masyarakat yang terlibat kegiatan Prima Tani. Untuk BPTP yang telah memulai kegiatan Prima Tani pada tahun 2005, pendampingan lebih difokuskan pada inovasi kelembagaan serta pemantapan organisasi dan jaringan kerjasama.
11.
Mengimplementasikan panduan Monev Prima Tani maka BPTP agar melakukan pelaksanaan monev internal Prima Tani minimal dua kali setahun; sedangkan pelaksanaan monev oleh Tim Monev Pusat (Sekretariat Badan Litbang, Tim Pembina dan Tim teknis Prima Tani) dilakukan mengikuti prosedur (metode) secara lengkap, terutama dalam hal melakukan kegiatan pemutakhiran hasil monev antara Tim Monev dengan Kepala BPTP bersama Tim Prima Tani-nya
D. Baseline Survey
12.
Dalam evaluasi dampak melalui baseline survey perlu dimasukkan aspek adopsi dan diseminasi untuk melihat sejauh mana terjadinya akselerasi adopsi teknologi selama pelaksanaan Prima Tani (3 - 5 tahun kedepan), terutama dalam hal kadar adopsi, jumlah petani yang terlibat yang mengadopsi teknologi yang dikehendaki atau yang diperlukan, termasuk cakupan areal/luasan. Sehubungan dengan hal tersebut, baseline survey mengakomodasikan pengumpulan data yang relevan dan metode analisisnya
E. Umum/Lain-lain
13.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dan perlu ditingkatkan pada pelaksanaan Prima Tani antara lain: a) peluang pengembangan dikaitkan dengan kesesuaian inovasi teknologi sesuai dengan potensi sumber daya dan keinginan petani, serta peluang pasar b) Evaluasi data sekunder tingkat desa dan kecamatan (analisa potensi lahan dan masyarakat), c) Frekuensi diskusi dengan kelompok tani, stakeholder dan pelaku agribisnis lainnya, d) Sosialisasi hasil PRA dengan Pemda/Stakeholder/ pelaku agribisnis termasuk sinkronisasi kegiatan Prima Tani dengan kegiatan Pemda.
14.
Prima Tani merupakan salah satu program utama Badan Litbang Pertanian, maka seluruh Unit Kerja/Unit Pelaksana Teknis (UK/UPT) lingkup Badan Litbang Pertanian perlu untuk bertanggung jawab tentang keberhasilan Prima Tani. Selama ini masih dirasakan bahwa Balit komoditas sebagai penghasil teknologi perlu meningkatkan keterkaitannya dan bersinergi dengan pelaksana Prima Tani (BPTP), agar inovasi teknologi yang akan diterapkan secara teknis mudah dilaksanakan di lapangan.
15.
Indikator-indikator keberhasilan di dalam pedoman umum Prima Tani perlu dikuantitatifkan berdasarkan variabel-variabel yang dapat di ukur.
16.
Peningkatan pendapatan petani dalam melaksanakan Prima Tani tidak saja semata-mata bersumber dari inovasi teknologi, tetapi bisa saja bersumber darj offfarm karena introduksi inovasi teknologi tersebut dapat saja menjadi multi player effect.

> SEJARAH LM3

(LEMBAGA MANDIRI MENGAKAR DI MASYARAKAT)


Lembaga Mandiri Mengakar di Masyarakat (LM3) adalah lembaga mendiri yang tumbuh dan berkembang di masyarat dengan kegiatan peningkatan gerakan moral melalui kegiatan pendidikan dan keterampilan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Program pegembangan LM3 adalah suatu upaya pemberdayaan SDM dan penguatan kelembagaan, khususnya kelembagaan keagamaan (pesantren, greja, pura, dll) di bidang usaha agribisnis yang berada di LM3. Program ini mulai dikelola oleh BPSDMP pada tahun 2006. Persyaratan yang harus dimiliki LM3 terpilih untuk mendapat mengikuti program ini adalah memiliki potensi sumberdaya yang mengdukung, sudah memiliki embrio usaha agribisnis dan mempunyai kemauan untuk mengembangkan agribisnis. Melalui program pengembangan LM3 ini, diharapkan akan tumbuh usaha agribisnis yang berdaya saing di LM3 sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar lokasi LM3. Output yang diharapkan dari pelaksanaan program ini adalah :

1. Tumbuhnya kesadaran LM3 dalam pengembangan usaha agribisnis di lembaganya
2. Dimanfaatkannya lahan/sumberdaya alam bagi peningkatan usaha dan pendapatan
3. Tumbuhnya kepedulian untuk mengembangkan usaha agribisnis pada masyarakat di sekitar wilayah LM3
4. Tersusunnya desain metodologi untuk pengembangan usaha agribisnis LM3

Indikator keberhasilan program ini meliputi:

1. Peningkatan usaha agribisnis di LM3
2. Peningkatan kelembagaan ekonomi di LM3
3. Peningkatan jejaring kerjasama usaha antar LM3 dan stakeholder lainnya
4. Peningkatan peran masyarakat di sekitara LM3 dalam pengembangan agribisnis
5. Peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat

Ruang lingkup kegiatan LM3 mencakup identifikasi dan seleksi LM3, pemberdayaan SDM, penguatan kelembagaan usaha LM3, pengembangan LM3 model, pengembangan jejaring kerjasama (silahturahmi nasional), pembinaan, koordinasi, supervisi, monitoring, evaluasi dan pelaporan. Pemberdayaan SDM Lm3 dilakukan untuk meningkatkan kemampuan, kapasitas dan wawasan SDM pengelola LM3 melalui kegiatan-kegiatan pelatihan, magang, sekolah lapang, studi banding dan pendampingan. Materi pemberdayaan SDM LM3 meliputi kewirausahaan (entrepreneurship), administrasi dan manajemen (perencanaan, produksi dan pemasaran), serta teknis pertanian Penguatan kelembagaan usaha LM3 dilakukan untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan usaha LM3 melalui inkubasi usaha, dan pengembangan jenjang kerjasama (silaturahmi nasional). Tahap awal kegiatan ini dilakukan dengan pengembangan LM3 model kedalam 3 jenis model, yaitu:

1. LM3 Model untuk pengembangan SDM Pertanian yang difasilitasi agar dapat menjadi teladan dan menjadi pusat informasi dan pembelajaran dalam pengembangan agribisnis bagi LM3 lain dan masyarakat sekitarnya
2. LM3 Model usaha agribisnis yang difasilitasi bantuan sarana prasarana usaha agribisnis dan pemberdayaan SDM serta penguatan kelembagaan usaha LM3
3. LM3 Model usaha agribisnis perkebunan yang difasilitasi bantuan sarana prasarana usaha agribisnis (usaha perkebunan) dan pemberdayaan SDM seta pwnguatan kelembagaan usaha LM3


TENTANG LM3
Sentuhan Departemen Pertanian terhadap LM3 berawal pada tahun 1991 dengan diterbitkannya Surat Keputusan Bersama Menteri Pertanian dan Menteri Agama No. 346/1991 dan No. 94/1991. Mulanya LM3 yang difasilitasi adalah lembaga-lembaga Pondok Pesantren, dengan sasaran berkembangnya usaha agribisnis di masing-masing pondok pesantren.
Pembinaan LM3 oleh Departemen Pertanian lebih dikembangkan lagi sejak tahun 1997, yaitu dengan diterbitkannya Surat Menteri Dalam Negeri No. 412.25/1141/PMD tangal 21 Oktober 1996 dan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 555/Kpts/OT.210/6/97 serta Surat Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian No. RC.220/720/B/VI/1998 tentang Pengembangan Agribisnis LM3.

KRITERIA
LM3 terpilih yang akan menjadi sasaran peserta pemberdayan dan pengembangan usaha adalah LM3 berbasis keagamaan dan berwawasan agribisnis yang mempunyai kendala permodalan untuk menjalankan usahanya dibidang pertanian. Guna memperoleh manfaat secara luas, maka penetapan LM3 terpilih berdasarkan atas beberapa kriteria, yaitu:
1.Umum, 2.Administrasi, 3.Teknis 4.Kompetensi.

Penetapan LM3 terpilih melalui proses pemilihan yang dilakukan oleh Dinas lingkup Pertanian terkait Kabupaten/Kota, BBDA/BDA, Tim Pemberdayaan dan Pengembangan Usaha LM3 Pusat serta KPA. Proses pemilihan dilakukan secara transparan atas dasar hasil identifikasi yang berpedoman pada kriteria yang ditetapkan, hasil kajian lapang dan proposal/ rencana usaha LM3.
Kriteria Umum LM3 terpilih program pemberdayaan dan pengembangan usaha sebegai berikut :
LM3 yang pernah mendapat bantuan usaha agribisnis;
1. LM3 yang belum pernah mendapat bantuan usaha agribisnis;
2. LM3 yang merencanakan mengembangkan usaha agribisnis dan layak secara teknis, sosial serta ekonomis;
3. LM3 akan dikembangkan di 33 propinsi dan menca,kup semua agama.
Kriteria Administrasi LM3 terpilih program pemberdayaan dan pengembangan usaha agribisnis antara lain:1. Mempunyai akta pendirian2. Mempunyai rekening LM3 tersendiri3. Mempunyai nama dan alamat yang jelas.4. Diusulkan dan disetujui oleh Pemerintah Daerah (Propinsi/kabupaten/Kota )5. Mempunyai proposal/kelayakan usaha, Rencana Usaha LM3, Perjanjian Kerjasama KPA dan LM3
Kriteria Teknis LM3 terpilih program pemberdayaan dan pengembangan usaha agribisnis sebagai berikut :
1. Mempunyai bidang usaha agribisnis
2. Mempunyai lahan usaha yang layak untuk pengembangan agribisnis
3. Kelayakan usaha
4. Jumlah santi/siswa/anggota/warga binaan lebih dari 100 orang
5. Memiliki modal usaha, sarana/prasarana dan jejaring kerjasama dengan masyarakat sekitar.
6. Memiliki SDM yang menangani agribisnis

Kriteria Kompetensi LM3 terpilih program pemberdayaan dan pengembangan usaha agribisnis sebagai berikut :
1. Mempunyai unit usaha agribisnis atau berminat untuk mengembangkan usaha agribisnis;
2. Mempunyai kompetensi untuk menerima dan mengembangkan inovasi dan IPTEK;
3. Memiliki wawasan dan pengetahuan tentang agribisnis;
4. Memiliki tanggung jawab terhadap keberhasilan program;
5. Memiliki kemampuan berbisnis/berusaha






Prosedur Pemilihan LM3 Terpilih
Peserta pemberdayaan dan pengembangan usaha LM3 dipilih berdasarkan hasil identifikasi lokasi dan analisis potensi sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan yang meliputi aspek; sumberdaya alam, sumberdaya fisik, sumberdaya sosial dan sumberdaya keuangan.
Pemilihan pertama dilakukan oleh BBDA/BDA dan Dinas lingkup Pertanian Provinsi/Kabupaten/Kota dengan melakukan evaluasi terhadap LM3, hasil seleksi menjadi LM3 usulan. Selanjutnya LM3 usulan di seleksi oleh Tim Pusat dengan melakukan validasi dan verifikasi ke Propinsi/ Kabupaten/ Kota, hasil kajian lapangan dan dana yang tersedia dalam DIPA, proposal dari LM3. Dari hasil ini ditetapkan calon LM3 terpilih dan diusulkan kepada Pimpinan Eselon I/KPA. Selanjutnya KPA melakukan verifikasi administrasi dan bila disetujui, maka diterbitkan Surat Keputusan KPA penanggung jawab program, sebagai LM3 terpilih.
LM3 terpilih diumumkan/disosialisasikan kepada masyarakat luas oleh Tim Pusat dan Dinas lingkup Pertanian Propinsi/Kabupaten/Kota/BBDA/BDA melalui media massa/ cetak /elektronik atau media komunikasi lainnya.
Proposal/rencana usaha setidaknya memuat: diskripsi usaha LM3 saat ini, sumberdaya dan sarana yang telah dimiliki LM3, potensi yang dapat dikembangkan, rencana usaha yang akan dilakukan, kelayakan rencana usaha dan prospek pasarnya, serta besarnya anggaran untuk pengembangan usaha LM3. Proposal ditanda tangani oleh Ketua LM3 dan diketahui oleh Tim Teknik Kabupaten/Kota/Balai Besar Diklat Agribisnis/Balai Diklat Agribisnis (BBDA/BDA), kemudian disampaikan ke Eselon I terkait.





DATA LM 3
Rekapitulasi Total LM3 2007
Pilih Tahun...- Semua -2004200520062007
Download Excel


No.
Propinsi
Jumlah Lembaga
Besar Bantuan
Tahun


Ditjen PPHP
BPSDMP
Lainnya



1
BALI
13 Organisasi
Rp 1.214.900.000
Rp 0
Rp 0
2007


2
BANTEN
6 Organisasi
Rp 857.200.000
Rp 0
Rp 0
2007


3
BENGKULU
3 Organisasi
Rp 302.600.000
Rp 0
Rp 0
2007


4
DI YOGYAKARTA
6 Organisasi
Rp 587.374.000
Rp 0
Rp 0
2007


5
DKI JAKARTA
3 Organisasi
Rp 1.025.530.000
Rp 0
Rp 0
2007


6
JAMBI
1 Organisasi
Rp 129.100.000
Rp 0
Rp 0
2007


7
JAWA BARAT
32 Organisasi
Rp 4.925.531.000
Rp 0
Rp 0
2007


8
JAWA TENGAH
23 Organisasi
Rp 2.656.362.500
Rp 0
Rp 0
2007


9
JAWA TIMUR
31 Organisasi
Rp 3.486.830.000
Rp 0
Rp 0
2007


10
KALIMANTAN BARAT
4 Organisasi
Rp 446.800.000
Rp 0
Rp 0
2007


11
KALIMANTAN SELATAN
5 Organisasi
Rp 562.750.000
Rp 0
Rp 0
2007


12
KALIMANTAN TENGAH
2 Organisasi
Rp 168.080.000
Rp 0
Rp 0
2007


13
LAMPUNG
5 Organisasi
Rp 592.800.000
Rp 0
Rp 0
2007


14
NANGGROE ACEH DARUSSALAM
2 Organisasi
Rp 230.400.000
Rp 0
Rp 0
2007


15
NUSA TENGGARA BARAT
7 Organisasi
Rp 743.190.000
Rp 0
Rp 0
2007


16
NUSA TENGGARA TIMUR
2 Organisasi
Rp 170.600.000
Rp 0
Rp 0
2007


17
SULAWESI BARAT
7 Organisasi
Rp 725.666.800
Rp 0
Rp 0
2007


18
SULAWESI SELATAN
5 Organisasi
Rp 608.400.000
Rp 0
Rp 0
2007


19
SULAWESI TENGAH
1 Organisasi
Rp 122.200.000
Rp 0
Rp 0
2007


20
SULAWESI TENGGARA
1 Organisasi
Rp 79.020.000
Rp 0
Rp 0
2007


21
SULAWESI UTARA
6 Organisasi
Rp 650.800.000
Rp 0
Rp 0
2007


22
SUMATERA BARAT
2 Organisasi
Rp 248.860.000
Rp 0
Rp 0
2007


23
SUMATERA SELATAN
4 Organisasi
Rp 454.400.000
Rp 0
Rp 0
2007


24
SUMATERA UTARA
8 Organisasi
Rp 937.400.000
Rp 0
Rp 0
2007


Total
179 Organisasi
Rp 21.926.794.300
Rp 0
Rp 0










PROFILE LM 3
1.


Tentang LM3

:: Sejarah

:: Kriteria

:: Sistem & Prosedur

Data LM3

:: LM3 per Daerah

:: Perkembangan

Profil LM3

BERITA

ADMINISTRASI

www.deptan.go.id
agribisnis.deptan.go.id
Profil "Pondok Pesantren Jabal Rahmah"
Nama OrganisasiPondok Pesantren Jabal Rahmah
PimpinanTengku M. Yusuf Manani
Bidang Usaha- Tanaman Pangan- Peternakan- Perkebunan
Jumlah Anggota231 Orang
Omset Tahun IniRp 0
Omset Tahun LaluRp 0
Produk UnggulanPadi
Tahun Berdiri2000
AlamatNgarai Kota Baru Kecamatan Sungai TarabTANAH DATAR, SUMATERA BARAT
Potensi Galeri Foto
Pondok Pesantren Jabal RahmahNagari Koto Baru, Kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat

Saiyo Sakato Bersama Masyarakat Hasil panen ternyata bisa membantu kehidupan pesantren, termasuk guru dan karyawan lainnya. Tanggal 27 Maret 2000, merupakan tanggal bersejarah bagi Nagari Koto Baru, Kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar. Karena pada saat itu telah didirikan pesantren yang diberi nama Jabal Rahmah.
Kehadiran pesantren yang namanya diambil dari salah satu bukit tempat pertemuan Nabi Adam As, ini diharapkan bisa menjadi benteng dari derasnya arus globalisasi dunia yang semakin kuat mempengaruhi generasi muda Islam. Pesantren ini pun memiliki misi bisa meminimalisasi kurangnya pemahaman dan pengamalan ajaran Islam dan kondisi ekonomi yang makin sulit sehingga banyaknya generasi muda Islam yang putus sekolah dan tak mampu melanjutkan ke sekolah tingkat yang lebih tinggi. Keinginan mendirikan pondok pesantren tersebut mendapat dukungan dari masyarakat Nagari Koto Baru yang merupakan salah satu Nagari di wilayah Kecamatan Sungai Tarab dengan luas 417 Hektare. Pesantren ini berada di lereng Gunung Merapi atau sering disebut jorong Aia Manumbuak Batu (AMB) yang memiliki pemandangan indah.
Adalah Abuya Tgk Yusuf Manani yang mendirikan Jabal Rahmah. Dibantu anak, menantu serta kerabat, serta masyarakat sekitarnya, mereka bersama mengelola dan terlibat dalam proses belajar dan mengajar di pondok pesantrennya. Sejak berdirinya pondok Jabal Rahmah ini, pimpinan beserta keluarga dan masyarakat menetapkan visinya selama 7 – 10 tahun ke depan. Yaitu dengan “mengembangkan lembaga pendidikan islam yang mandiri, melahirkan lulusan berkualitas dan berkepribadian muslim yang menguasai dan memahami segala ajaran islam“. Sementara itu, tujuan pesantren adalah membantu terciptanya kesejahteraan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat yang berlandaskan ajaran Islam dan adat istiadat yang bersandikan syara-syara Kitabullah. Dalam mewujudkan visi, tujuan dari pesantren Jabal Rahmah tersebut, pimpinan menuangkan ke dalam tiga program kerja. Yaitu program kerja jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.
Ada enam program kerja jangka pendek. Yaitu dispensasi bebas bayaran terhadap anak yatim piatu dan anak dari keluarga miskin, santunan makanan dan pangan terhadap anak yaitim dan fakir miskin, pendidikan khusus agama dan ilmu pengetahuan, keterampilan khusus bagi santri yang berbakat, menyelesaikan bangunan rumah sekolah, mushola, asrama dan air bersih melalui ledeng/ pipa yang diambil dari mata air, dan yang terakhir yaitu melaksanakan budidaya tanaman palawija, Ada beberapa pepatah dan pituah yang patut direnungkan. Petuah ini diucapkan pimpinan pondok pesantren atau sering disebut dengan abuya, dalam membina dan membimbing pesantren ini sehingga berkembang terus. Yaitu “saiyo sakato” = seiya sekata; “bule aiy de pembuluh, bule kate de mupake”= bulat air karena bambu, bulat kata karena mufakat, serta kemauan yang kuat dari pimpinan tunggal yang tinggi dan luas wawasanya dalam mewujudkan cita-citanya. Dimana ada kemauan, pasti ada jalan
Jumlah santri tahun ini tercatat 231 orang yang terdiri dari tingkat MI sebanyak 94 orang, tingkat Mtsn sebanyak 111 orang dan tingkat MA sebanyak 25 orang. Dalam mengembangkan pola pendidikannya, salah satu terobosan yang dilakukan adalah membiasakan para santri untuk melakukan praktek langsung. Dalam hal sosialisasi, misalnya, setiap santri yang belajar di pesantren ini selama tiga bulan pertama diwajibkan melakukan ceramah agama dengan bimbingan dari ustadz. Bersama masyarakat, para santri juga mengolah lahan pertanian baik dalam bentuk sewa maupun dipinjamkan masyarakat untuk diolah. Dalam pembangunan pesantren peran masyarakat memang sangat tinggi. Baik bersifat moril maupun material.
Usaha tanaman pangan yang dilakukan, antara lain, mengolah tanaman padi pada lahan 1,5 Hektare. Kini sudah memasuki tiga periode tanam. Per tahun bisa panen dua kali, dengan rata-rata panen lima ton. Produksi lain ada tembakau, tanaman sayur yaitu buncis, cabe, tomat, dan jahe. Untuk cabe, rata-rata pertahun produksinya 3,4 ton dengan luas tanam 0,5 Hektare. Produksi tomat, pada 2006 ini sampai 60 ton, pada lahan 1,5 Hektare. Sedangkan untuk jahe, dengan rata-rata luas tanaman 0,5 Hektare, produksi rata-rata mencapai 10 ton pertahun. Di bidang peternakan, komoditinya juga terlihat ada perkembangan. Dari 1 ekor kambing sekarang menjadi 5 ekor. Secara nominal, pada tahun 2005 hasil panen tembakau mencapai Rp.9.900.000. Tanaman jahe sebesar Rp.17.500.000.- dan buncis sebesar Rp.5.700.000,- kemudian bulan Mei lalu mereka juga sudah panen tembakau sebesar Rp.4.500.000.- Tomat Rp,.1.625.000.- Dan buncis sebesar Rp.2.725.000-. Meski belum besar, tapi upaya-upaya itu membuat kehidupan pesantren ini sangat terbantu. Termasuk untuk membayar gaji guru dan karyawannya. Selama ini, jika mengandalkan bantuan pemerintah, kehidupan pesantren agak sulit apalagi untuk menutupi biaya operasional para guru dan kehidupan lainnya di pesantren. Sampai saat ini, baru sekitar Rp. 63 juta bantuan dari pemerintah. Yaitu, sebesar 10 juta dari Pemda Tanah Datar pada tahun 2004, Rp 20 juta pada 2005 dari Departemen Agama dan bantuan dana BOS. Sementara honor guru yang harus dibayarkan per tahun (2005) tercatat sebesar Rp 160.754.000.-. Terdiri dari honor kesejahteraan guru, operasional pendidikan, serta pembangunan dan pengembangan prasana lainnya. Disamping juga mereka juga memperoleh bantuan dari masyarakat lainnya baik dalam bentuk zakat maupun sumbangan lainnya dari para donatur.


INDEX BERITA
Minggu, 09 September 2007
Mendorong tumbuhnya LM3

Jumat, 18 Mei 2007
Pondok Pesantren Uswatun Hasanah Kayeli Maluku Jadi 'Motor' Agribisnis Warga

Rabu, 20 Desember 2006
Masa Depan Pertanian Indonesia, Sebuah Catatan dari Jepang oleh Ubedilah Badrun



2.


Tentang LM3

:: Sejarah

:: Kriteria

:: Sistem & Prosedur

Data LM3

:: LM3 per Daerah

:: Perkembangan

Profil LM3

BERITA

ADMINISTRASI

www.deptan.go.id
agribisnis.deptan.go.id
Profil "Kelompok Agribisnis Mardika, Gereja Bet el uel"
Nama OrganisasiKelompok AgribisnisMardika, Gereja Bet el uel
PimpinanPdt. Adriana Malelak Tanggela, S.Th
Bidang Usaha- Tanaman Pangan- Hortikultura- Peternakan- Perkebunan
Jumlah Anggota354 Orang
Omset Tahun IniRp 0
Omset Tahun LaluRp 0
Produk UnggulanBudidaya Jagung
Tahun Berdiri2000
AlamatDesa Nunkurus, Kecamatan Kupang TimurKOTA KUPANG, NUSA TENGGARA TIMUR
Potensi Galeri Foto
Kelompok Agribisnis Mardika, Gereja Bet el uelDesa Nunkurus Kecamatan Kupang Timur Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur
Membangun Kemakmuran dengan Jagung Di sini, jagung layaknya sebuah tambang emas. Jika dikelola dengan baik, akan mampu mengaliri seluruh kehidupan di sekitarnya. Tangannya tampak sibuk memipil jagung. Ada sekitar tiga ton siap dikirim pada pemesannya. Sementara tak jauh dari pekarangan rumahnya yang luas, tempat memipil jagung itu, tampak lahan jagung yang sedang dipanen. "Hanya kerja keras seperti inilah kita bisa bangkit dari kemiskinan",ujar Zet Malelak, Ketua Kelompok Agribisnis Mardika di wilayah jemaat Bet El Uel Klasis, Kupang Timur. Siang itu, meski cuaca panas, sang pendeta tampak tak peduli. Tangannya terus memipil jagung. Tanaman palawija yang satu ini sungguh ‘membius’ putera Kupang yang berhasil menggaet gelar MSi dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta ini. Filosofinya sederhana. Jagung bisa tumbuh pada lahan kering, tanpa air mengalir, bahkan di saat hujan tak tu-run. Karena itulah, jagung bisa diandalkan sebagai sumber penghasilan di saat sulit. Begitu istimewanya jagung, sehingga sosok Zet Malelak, menyebutkan bahwa jagung memiliki banyak hal. Salah satunya, adalah spritiualitas yang mengajak seluruh jemaat untuk bekerja keras, membelah bumi. Dan ajaran ini tak berhenti pada kerohanian saja, tetapi pada kemanusiaan. Tapi menghadirkan jagung di daerahnya itu ternyata tak mudah. Ada romantika yang patut diambil hikmahnya. Zet Malelak ini dikenal sebagai dosen desa. Pasalnya, ka-rena kebiasaannya berjalan dari kampung ke kampung di pelosok desa menggelar pengajaran. Mengajak jemaatnya untuk membebaskan diri dari kemiskinan. Kemiskinan inilah yang mendorongnya berjalan tanpa lelah dari kampung ke kampung, mengajak jemaatnya bangun dari tidurnya, membuka selimut dirinya dan berjalan mencari kerja. “Hanya kerja keraslah yang akan membebaskan mereka dari kemiskinan,” katanya menegaskan.
Pada awalnya, Desa Nunkurus ini adalah daerah kering tanpa air mengalir. Musim kemarau sangat panjang, tak ada hujan sampai berbulan-bulan. Bayangkanlah, bagaimana tanaman bisa tumbuh dalam kondisi lahan seperti itu? Bagaimana manusia bisa hidup? Ujar Zet Malelak mengenang. Sementara, belum banyak program yang dikucurkan di agrosistem lahan kering. Perhatian pemerintah di tahun-tahun yang lalu lebih banyak bermain di lahan basah. Tapi, kondisi itu tak membuat sosok yang bersuara lan-tang patah arang. Zet Malelak, melihat sisi lain sebagai faktor pendukung. Yaitu air tanah yang biasa muncul pada tempat-tempat tertentu di lahan kering. “Faktor potensial ini merupakan kekuatan lahan kering yang harus diefektif kan,” tambahnya. Tapi, untuk menyedot dan mengalirkan air tanah, butuh pompa, dan pompa ini butuh bahan bakar. Sementara, untuk menghadirkan bahan bakar dari Kupang ke desa ini ada romantikanya tersendiri. Bukan persoalan yang gampang. Ada aturan yang tidak membenarkan membeli bahan bakar dengan jerigen. Konon, berkali-kali mereka dicegat polisi, hanya karena membawa bahan bakar un-tuk menghidupkan pompa, untuk mengalirkan air bagi tanaman, untuk produksi jagung. Ironis, dengan segala kesulitan itu, haga bahan bakar jadi melambung Rp.1000,- lebih mahal per liter. Belum lagi untuk membeli satu jeri-gen bahan bakar ini diperlukan surat dari kecamatan agar tidak ‘berkelahi’ dengan polisi. Perjuangan itu hanya untuk air tanah. Yaitu sumberdaya alam yang penting di lahan kering. Sehingga di sana bisa tumbuh jagung, kacang hijau, dan lain sebagainya. Diversifikasi usaha. Jagung sebagai tanaman utama, dan menjadi nilai tambah serta memberikan efek ganda. Karena kambing, sapi, ayam dan perikanan ikan bandeng tambak ikut berkembang bersama jagung.
Untuk mempermudah kegiatan operasional itulah, maka pada 2001, dibentuklah kelompok Agribisnis Mardika Gereja Bet El Uel. Kini memiliki pengurus inti 20 orang. Kehadirannya diharapkan bisa menghadapi berbagai persoalan, seperti yang disebutkan tadi. Sehingga petani dalam perjuangannya menghasilkan pangan, dapat lebih memperoleh kemudahan dan pelayanan. Dalam kegiatannya kelompok melibatkan seluruh masyarakat tani di wilayah ini. Pada tahun-tahun pertama kegiatan kelompok hanya melayani kegiatan petani setempat. Namun, tak lama kemudian, usaha ini juga melayani permintaan bantuan masyarakat di wilayah lain. Sekitar 99 persen jemaat di Gereja Bet el uel pendapatan ekonominya bersumber dari kegiatan usaha tani. Untuk tujuan inilah mengapa Zet Malelak menjadi orang yang dijuluki dosen desa. Tujuannya satu bertemu dengan mereka yang melangkah dalam gelapnya jalan setapak, sambil menyalakan lilin spriritulitas, Yang diletakan pada awal. Dan melayani semua hal yang mereka butuhkan. Kegiatan yang dilakukan kelompok, antara lain pembuatan batako, simpan pinjam, kredit pupuk, obat-obatan dan benih, pertambakan ikan bandeng di lahan kering, budidaya jagung, padi, kacang hijau dan sayur-sayuran, penggilingan padi, dan bengkel kerja. Dalam melaksanakan berbagai kegiatan, pola yang dipakai ada berbagai pola pinjam sarana pengembalian bentuk natura hasil produksi yang menguntungkan bagi kedua belah pihak. Dengan pola seperti itu, kelompok mampu mengembalikan kredit UKM Depkop. Secara keseluruhan SDM jemaat Gereja Bet el uel terdiri dari 354 orang. Sekitar 80% SD, 20% SMP dan SMA. Sebagian besar jemaat ini pernah mengikuti kursus pertanian, peternakan, dan perikanan. Kondisi ini, jelas merupakan modal yang sangat luar biasa untuk meningkatkan produktivitas usaha-usaha pertanian. Tetapi untuk penguatan kelembagaan usaha agribisnis yang berdaya saing, mereka tampaknya masih sangat membutuhkan pelati-han-pelatihan. Contohnya, pelatihan khusus manajemen usaha, peningkatan pelayanan di sarana produksi, koperasi simpan pinjam, dan kepemimpinan. Intinya adalah memahami apa sebernarnya yang dibutuhkan. Petani sebagai petani yang sudah sejak dahulu kala secara naluri telah menjalankan kewajiban alamiahnya yaitu mengolah tanah, memanfaatkan air, bekerja sama dengan alam untuk menghasilkan barang-barang yang diperlukan, utamanya adalah bahan makanan.
Pekerjaan - pekerjaan yang dikerjakan ini, sejak dulu sampai sekarang tidak pernah berhenti. Kini, jagung telah tumbuh. Di lahan kering ini, mereka punya mimpi jagung tumbuh dimana-mana. Bagi mereka, tanpa LM3 pun sudah dan akan tetap tumbuh terus. Diharapkan program ini dapat menjadi inspirasi dan menjadi energi pendobrak kemacetan berpikir ketika menghadapi kendala yang tidak dapat dipecahkan. Contohnya, alat mesin pertanian, dana bantuan dan lainlainl dari program LM3, ini akan memperkuat kelembagaan agribisnis Indonesia karena sangat dibutuhkan masyarakat. Pada lahan yang ‘’sulit’’ ini, dibutuhkan kekuatan, juga spriritualitas. Terus terang saja, faktor kemiskinan sangat berpengaruh pada kehidupan. jika kemiskinan terbelenggu, tidak tersalurkan, maka dia akan meledak menjadi persoalan-persoalan sosial. Orang miskin dan la-par tidak bisa menunggu. Mereka bisa menjadi apa saja, menjadi pencuri, menjadi wanita tuna susila, atau kesesa-tan-kesesatan lainnya yang tak pernah dibayangkan oleh kita sebagai manusia.
Jagung ini kini punya bargaining power! Apalagi jika bukitbukit ini penuh dengan penuh jagung yang di dalamnya ada kehidupan lain. Karena dibalik jagung, ada kacang hijau, ada rumput, ada sapi, ada kambing, ada pupuk dan masih banyak lagi. Satu contoh saja, dalam 1 ha jagung punya nilai tambah. Yaitu 1,8 ton rumput yang dapat menjadi makanan ternak. Dengan semua itu, tak ada lagi kemiskinan. Prasyaratnya cuma satu. Bekerja keraslah, dan belahlah bumi.


INDEX BERITA
Minggu, 09 September 2007
Mendorong tumbuhnya LM3

Jumat, 18 Mei 2007
Pondok Pesantren Uswatun Hasanah Kayeli Maluku Jadi 'Motor' Agribisnis Warga

Rabu, 20 Desember 2006
Masa Depan Pertanian Indonesia, Sebuah Catatan dari Jepang oleh Ubedilah Badrun



UNIT PELAKSANA TEKNIS LM 3

Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) adalah Perguruan Tinggi Kedinasan di lingkungan Departemen Pertanian, yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Pertanian. Pembinaan teknis akademik STPP dilakukan oleh Menteri Pendidikan Nasional dan pembinaan teknis operasional dilakukan oleh Menteri Pertanian melalui Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian. Dalam melaksanakan tugas, STPP dipimpin oleh seorang Ketua dan sebuah STPP mempunyai tugas melaksanakan dan mengembangkan program pendidikan profesional di bindang ilmu-ilmu pertanian khususnya penyuluhan pertanian dan peternakan. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud, STPP menyelenggarakan fungsi:

a. pelaksanaan dan pengembangan program pendidikan profesional penyuluhan pertanian dan peternakan;
b. pelaksanaan penenlitian terapan penyuluhan pertanian dan peternakan;
c. pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat;
d. pelaksanaan pembinaan sivitas akademika dan hubungannya dengan lingkungan;
e. pelaksanaan administrasi umum, akademik dan kemahasiswaan.

:: Struktur Organisasi STPP :: Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Medan - Sumut Jl. Binjai Km. 10 Tromol Pos 18 Medan 20002 Tel: (061) 8451544 :: Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Bogor - JabarJl. Cibalagung No. 1 Bogor - Jawa Barat Tel/Fax: (0251) 312386 :: Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Magelang - JatengJl. Magelang Kopeng Km. 7 Kotak Pos 55 Magelang - Jateng Tel: (0293) 313032 / Fax: (0293) 364188STPP Magelang Jurusan Penyuluhan PertanianJl. Kusumanegara No. 2 Jogjakarta 55167 Tel: (0274) 373479 / Fax: (0274) 375528 :: Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Malang - JatimJl. Dr. Cipto No. 144-A Bedali - Lawang Jawa Timur 65200Tel: (0341) 427771 - 427772 - 427773 - 427379 / Fax: (0641) 427774 :: Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Gowa - SulselJl. Malino Km. 7 Borongloe - Gowa Sulsel 1427 Tel: (0411) 861127 :: Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Manokwari - Papua BaratJl. SPMA kp. 143 Manokwari - Irian Jaya Barat 98301 Tel: (0986) 211993 / Fax: (0986) 213223



Nomor : Jakarta, Maret 2008
Lampiran : 2(dua) lembar
Perihal : Sosialisasi program LM3 Ditjen PPHP

Kepada Yth.
1. Kepala Dinas lingkup Pertanian Propinsi
2. Kepala Dinas lingkup Pertanian Kabupaten/Kota
di
Seluruh Indonesia


Diberitahukan bahwa, seperti pada tahun-tahun yang lalu dalam rangka pemberdayaan dan pengembangan usaha pasca panen, pengolahan dan pemasaran hasil pertanian pada Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3), pada tahun 2008 Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian akan memfasilitasi beberapa LM3 yang berpontesi dan berminat untuk mengembangkan usaha di bidang usaha pasca panen, pengolahan dan pemasaran hasil pertanian.

Untuk itu, mohon bantuan Saudara kiranya dapat mensosialisasikan program tersebut serta melakukan identifikasi awal kepada LM3 di wilayah Saudara. LM3 yang memenuhi kriteria terlampir dapat mengajukan proposal usaha di bidang pasca panen, pengolahan dan pemasaran hasil pertanian sesuai outline proposal terlampir.

Proposal yang memenuhi syarat akan dilakukan kajian (desk analysis) dan verifikasi lapang serta seleksi sebagai calon penerima bantuan tahun 2008. Proposal dan dokumen lainnya agar dikirimkan paling lambat 30 April 2008, ditujukan kepada :

Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian
Kanpus Dep. Pertanian Gedung D Lt. 2
Jl. Harsono RM No. 3 Ragunan Jakarta Selatan
Telp/Fax : 021-7816185, 78842572, 7827275.

Untuk informasi yang lebih rinci, dapat menghubungi Sekretariat LM3 Ditjen PPHP No. Telp. 7827275, 78842572 atau 7815380 ext. 5334, 5220.

Demikian disampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya diucapkan terima kasih.

Direktur Jenderal,





Prof. DR. Djoko Said Damardjati
Tembusan Kepada Yth. NIP. 080 026 883
Bapak Menteri Pertanian (sebagai laporan)
PASCA PANEN, PENGOLAHAN DAN PEMASARAN
HASIL PERTANIAN TAHUN 2008

KRITERIA ADMINISTRASI


1. Mempunyai kepengurusan dan alamat yang jelas
2. Mempunyai akte pendirian
3. Mempunyai warga/anggota binaan lebih dari 100 orang
4. Mengajukan proposal kegiatan usaha agribisnis
5. Proposal bidang pasca panen, pengolahan dan pemasaran hasil pertanian disampaikan kepada Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian dengan cara :

· Proposal dari LM3 yang diketahui oleh Dinas yang membina komoditi yang bersangkutan di Kabupaten/Kota disampaikan melalui Dinas lingkup Pertanian Provinsi
· Proposal dari LM3 disampaikan oleh Dinas yang membina komoditi yang bersangkutan di Kabupaten/Kota dengan tembusan kepada Dinas lingkup Pertanian Provinsi.
· Proposal yang diketahui oleh Dinas yang membina komoditi yang bersangkutan di Kabupaten/Kota disampaikan langsung oleh LM3 yang bersangkutan kepada Ditjen PPHP dengan tembusan kepada Dinas lingkup Pertanian Provinsi.

KRITERIA TEKNIS PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL PERTANIAN


1. Mempunyai usaha atau menumbuhkan usaha di bidang agribisnis khususnya penanganan pasca panen, pengolahan dan pemasaran hasil pertanian
2. Mempunyai lahan atau prasarana untuk pengembangan usaha
3. Mempunyai sumber atau jaminan ketersediaan bahan baku
4. Mempunyai jejaring kerjasama usaha dengan masyarakat sekitarnya dan atau mitra usaha
5. Memiliki sumberdaya manusia dan manajemen khusus yang menangani usaha penanganan pasca panen, pengolahan dan pemasaran hasil pertanian


KRITERIA KOMPETENSI


1. Mempunyai minat untuk mengembangkan penanganan pasca panen, pengolahan dan pemasaran hasil pertanian
2. Amanah, terpercaya dan melaksanakan apa yang menjadi kewajibannya
3. Mempunyai wawasan dan pengetahuan tentang penanganan pasca panen, pengolahan dan pemasaran hasil pertanian
4. Mempunyai kapasitas untuk menerima dan mengembangkan Iptek di bidang usaha penanganan pasca panen, pengolahan dan pemasaran hasil pertanian
5. Mempunyai tanggungjawab terhadap keberhasilan program
6. Mempunyai kemampuan berbisnis/berusaha


PASCA PANEN, PENGOLAHAN DAN PEMASARAN
HASIL PERTANIAN TAHUN 2008

KATA PENGANTAR

I. PROFIL LM3

1.1 Nama, alamat, telepon, faksimili dan e- mail
1.2 Sejarah dan perkembangan LM3 (tahun didirikan, perkembangan jumlah anggota dll)
1.3 Susunan Pengurus
1.4 Sarana prasarana dan sumberdaya yang dimiliki (termasuk sumberdaya manusia, sumberdaya alam, bangunan, alat dan mesin dll)
1.5 Kegiatan dan usaha yang dilakukan pada saat ini
1.6 Potensi usaha yang dapat dikembangkan

II. RENCANA USAHA YANG DIUSULKAN

2.1 Bidang usaha dan kapasitas usaha
2.2 Lokasi dan gambaran mengenai potensi/kelayakan untuk usaha yang diusulkan
2.3 Rencana produksi dan pemasaran
2.4 Rencana kegiatan, sarana prasarana dan anggaran yang diperlukan serta proyeksi pendapatan usaha
2.5 Pola manajemen usaha (termasuk jika ada rencana kerjasama dengan masyarakat atau pihak lainnya)
2.6 Kelayakan secara finansial, ekonomi dan lingkungan


LAMPIRAN

A. Struktur pengurus/Manajemen usaha
B. Akte Notaris
C. NPWP
D. Dokumentasi/foto-foto kegiatan







BERITA LM3

Rabu, 20 Desember 2006
Masa Depan Pertanian Indonesia, Sebuah Catatan dari Jepang oleh Ubedilah Badrun
Dr. Rudi Lumanto dalam pemaparannya antara lain mengemukakan betapa pentingnya solusi menghadapi masalah pertanian di Indonesia dalam bentuk kepedulian pada petani. Karena itu banyaknya program pemerintah yang memihak petani (bantuan kredit petani, asuransi pendidikan, subsidi benih, bantuan langsung masyarakat dalam bentuk LM3) menjadi solusi yang diharapkan berdampak positif bagi upaya peningkatan produktivitas petani. Hal menarik lain menurut Rudi Lumanto dan sudah dicontohkan Menteri Pertanian Anton Apriantono adalah melakukan pendekatan langsung kepada petani untuk mengetahui secara real kehidupan petani dan apa yang sebenarnya dibutuhkan petani. Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk kegiatan langsung Menteri bersama petani, antara lain berkunjung ke rumah-rumah petani bahkan tidur di rumah petani, berpola hidup sederhana, sampai solat subuh berjamaah. Dari sinilah Menteri Pertanian mengetahui langsung persoalan petani yang sesungguhnya sehingga berbagai solusi akan lebih tepat sasaran dan mendorong harapan meningkatnya produktivitas para petani. Bahkan Nomor hand phone Menteri juga diberikan langsung kepada petani. Sehingga laporan dari masyarakat bisa dipantau secara langsung.
Sementara Dr.Ahmad MS mengemukakan bahwa kerangka besar Departemen Pertanian sesungguhnya merujuk pada Visi yang diembannya. Kementerian Pertanian kali ini mengusung visi menjadikan Departemen Pertanian yang peduli terhadap kesejahteraan masyarakat pertanian melalui penyelenggaraan birokrasi yang bersih dalam pembangunan pertanian berkelanjutan. Dari visi ini terdapat tiga hal penting yang menjadi konsentrasi Departemen Pertanian saat ini. Ketiga hal tersebut adalah (1) pentingnya kepedulian terhadap kesejahteraan petani, (2) penyelenggaraan birokrasi yang bersih, dan (3) pembangunan pertanian yang berkelanjutan. Visi inilah yang kemudian diterjemahkan secara lebih operasional dalam bentuk misi dan program kerja Departemen Pertanian.
Dalam konteks kepedulian ini Dr.Ahmad mengemukakan langkah Deprtemen Pertanian (Deptan) dengan meningkatkan anggaran bagi petani sehingga mencapai 500 milyar rupiah untuk tahun 2006 ini. Anggaran ini realisasisnya digunakan dengan rincian 250 milyar untuk dana penjaminan dan 250 milyar digunakan utk subsidi benih. Dengan kebijakan ini petani tidak lagi dibebankan dengan jaminan atau agunan ketika meminjam uang untuk kepentingan pertaniannya. Mengenai birokrasi yang bersih, menurut Dr.Ahmad hal ini dilakukan dengan tidak ada satupun CPNS yg masuk dengan cara KKN, sebab dilakukan secara transparan dan dengan ketatnya seleksi kelulusan melalui tes dan mempertimbangkan CPNS dengan nilai Indkes Prestasi Komulatifnya yang tinggi. Selain itu, pergantian jabatan juga berlangsung dengan menerima masukan dari seluruh lapisan masyarakat melalaui nomor hand phone Menteri. Menurut Dr.Ahmad Saat ini orang-orang di Deptan tidak ada yang ewuh pekewuh karena proses masuknya tidak melalui KKN. Karena prestasi Deptan yg bagus DPR mendukung program Deptan hingga menyetujui anggaran pertanian mencapai 6,7 atau 8, 6 Triliun. Pada tahun 2007 nanti bisa mencapai 10 triliun lebih. Ini angka tertinggi dalam sejarah Pertanian.
Berbagai kebijakan Departemen pertanian sesungguhnya secara operasional diterjemahkan melalui Misi dan Program Departemen Pertanian tahun 2005-2009. Misi Departemen Pertanian menurut Dr.Ahmad adalah untuk periode pembangunan Pertanian 2005-2009 adalah (1)mewujudkan Birokrasi petani profesional dan memiliki integritas moral, (2) mendorong pembangunan pertanian yang tangguh dan berkelanjutan, (3) memfasilitasi terwujudnya ketahanan pangan melalui peningkatan produksi. Sementara untuk program pertanian tahun 2005-2009 adalah (1) meningkatkan ketahanan pangan, (2) meningkatkan ketahanan agrobisnis dan (3) peningkatan kesejahteraan petani. Dr.Ahmad lebih kanjut mengemukakan bahwa untuk mencapai program yang bagus tersebut dibutuhkan Sumber Daya Manusia Pertanian yang unggul yakni yang memiliki kekuatan spiritual, kekuatan intelektual, kekuatan emosional dan kekuatan jasad.
Ketika menjawab pertanyaan masyarakat Indonesia di Jepang mengenai kendala pelaksanaan program, Dr.Rudi Lumanto mengemukakan bahwa ternyata dalam realisasi program LM3 petani menyalahgunakan LM3 antara lain dengan cara bagi-bagi uang antar petani , bahkan tragisnya ada yang untuk hajatan. Oleh karena itu menurut staf khusus Menteri Pertanian ini, salah satu solusi terpenting adalah perlu program peningkatan penyuluh petani.
Sementara menjawab pertanyaan masyarakat Indonesia lainya yang hadir di forum diskusi ISTECS yang diselenggarakan di musim dingin ini Dr.Ahmad mengemukakan bahwa target tahun 2007 antara lain berupaya keras agar lahir Undang-undang & Peraturan Menteri Pertanian yg memihak petani. Program pemberian beasiswa juga mengemuka dalam diskusi yang berlangsung saat musim dingin itu. Untuk tahun 2007 akan diberikan beasiswa khusus bagi anak petani. Selain itu dalam rangka meningkatkan produktivitas petani Deptan juga akan melakukan recruetment tenaga penyuluh kontrak sebanyak 60.000 orang . Untuk tenaga penyuluh ini proses pelamaran tidak ada yang diperkenankan langsung ke Deptan tetapi semuanya harus melalui PO BOX.
Catatan Dari Jepang
Dalam kesempatan tanya jawab dengan masyarakat Indonesia di Jepang, Drh.Pudjiatmoko, Phd (Atase pertanian KBRI Tokyo), mengemukakan bahwa Atase melakukan kerjasama dengan Jepang antara lain dalam bentuk pengiriman trainee pemuda petani Indonesia untuk melakukan magang tani di Jepang. Mereka para trainee tani ini jumlahnya mencapai 50-60 orang pertahun. Kerjasama juga dilakukan selain dengan JAEC juga dengan asosiasi petani di Jepang antara lain diwilayah Fukui, Nigata, Gunma, dan Kumamoto. Para tranee petani ini masih muda dan diharapkan memiliki pengalaman berharga untuk dikembangkan di Indonesia. Menurut alumni Gifu Uiniversity ini, mereka yangg dikirm ke Jepang harus mempunya pengalaman 5 tahun sebagai petani di Indonesia atau memeiliki pengalaman bertani mengikuti orang tuanya. Beberapa alumni trainee tani di Jepang ini menurut Pudiatmoko berhasil melakukan penanaman tomat dengan metode hydroponic di wilayah Lembang-Bandung, Jawa Barat. Produk mereka disebut Japanese tomato dan dipasarkan disejumlah pasar swalayan di Indoensia. Selain itu atase pertanian juga membantu dan memfasilitasi delegasi Indonsia ke Jepang dalam kerjasama dengan lemabaga-lembaga di Jepang, contohnya pengadaan peralatan lalat buah sehingga buah-buahan Indonesia diharapkan bisa masuk ke Jepang.
Jika kita belajar dari majunya dunia pertanian di Jepang, ternyata program pengiriman trainee juga pernah dilakukan pemerintah Jepang di awal abad 20 (?). Pemerintah Jepang mengirim petaninya ke sejumlah negara Eropa dan Amerika. Walhasil kini dunia pertanian Jepang mengalami kemajuan yang mengagumkan. Dalam konteks ini kunjungan tenaga ahli Menteri Pertanian RI ke Jepang merupakan langkah yang strategis untuk mengetahui lebih dekat dunia pertanian Jepang. Bahkan termasuk mengunjungi secara real kondisi para trainee tani yang ada di sejumlah daerah di Jepang. Beberapa hal menarik dari Jepang tentu saja telah ditemukan, tinggal kita berharap agar hubungan anatar Indonesia dan jepang dibidang pertanian mampu membuahkan hasil bagi kemajuan pertanian Indonesia yang memang merupakan negara agraris terbesar di dunia.

BERITA LM3
Jumat, 18 Mei 2007
Pondok Pesantren Uswatun Hasanah Kayeli Maluku Jadi 'Motor' Agribisnis Warga
Pondok Pesantren Uswatun Hasanah berada di desa Kayeli, Kabupaten Buru, Maluku, salah satu daerah yang masuk dalam katagori tertinggal di provinsi itu. Jangan tanya berapa lama perjalanan dari Ambon, ibu kota Maluku. Dari Buru saja, menuju Kayeli penuh liku. Untuk dapat sampai di Desa Kayeli memerlukan waktu 45 menit dengan menggunakan perahu motor.
Dari tubir pantai, Ponpes Uswatun Hasanah dapat segera dijangkau. Jangan bayangkan bangunannya berdiri kokoh. Gedung utama ponpes adalah sebuah masjid kecil, yang lebih mirip surau. Di sinilah aktivitas ponpes berlangsung.
Para santri dari Pondok Pesantren Uswatun Hasanah berasal dari keluarga tani dan masyarakat yang kurang mampu. Dari segi ekonomi, masyarakat dan santri tergolong pada tingkat menengah ke bawah. Dalam bidang agama, masih banyak yang mengaku beragama Islam tetapi belum mau menjalankan kewajiban sebagaimana pemeluk agama Islam. Sedang sebagian lagi adalah mualaf.
Jumlah santri yang bergabung dalam pondok terdiri dari 65 santri TPA (Taman Pendidikan Alquran), 32 santri salafiyah, 45 santri Mts (Madrasah Tsanawiyah), 23 santri SMK, 35 santri Madin (Madrasah Diniyah). Kaum Muslim Kayeli menggantungkan pendidikan anak-anaknya di ponpes ini. Anak-anak yang dahulu tidak mendapat sentuhan pendidikan agama, sekarang telah menyentuh bagi semua lapisan masyarakat. Santri selain dibekali pelajaran umum juga dibekali ilmu kalam, ilmu alat/nahwu, akhlak, tafsir, fikih, tauhid tafsir dan tahfidz. Olah raga dan bertani juga menghiasi kegiatan sehari-hari para santri.
Tenaga pengajar terdiri dari tujuh guru tetap dan delapan guru tidak tetap yang merupakan lulusan dari perguruan tinggi baik swasta maupun negeri. Sebagian mereka datang ke Kayeli karena betul-betul ingin mengabdi, karena gaji yang diberikan tak sebanding dengan dana yang mereka keluarkan.
Karena masyarakat di desa Kayeli ataupun dusun yang lainnya tingkat ekonominya masuk dalam katagori menengah kebawah maka dalam pelaksanaan kegiatan belajar santri tidak dibebankan biaya. Adapun pembiayaan pondok berasal dari usaha-usaha yang dilakukan santri, donatur, dan juga pimpinan pondok.
Belum masuknya listrik ke Desa Kayeli ini tidak menjadi hambatan untuk para santri untuk belajar dalam menggapai masa depan. Mereka tetap semangat melakukan tugas mereka sebagai santri mulai dari mengengerjakan tugas hingga menghafal Alquran walupun hanya dengan lampu pelita. Selama ada keinginan kuat untuk maju, maka kita akan maju, ujar Kalaman Bugis SAg, sang pimpinan pondok.
Itu pula sebabnya, keterbatasan fasilitas bukan menjadi halangan bagi mereka. Misalnya, ketiadaan bangunan kelas disikapi para pengelola pondok dengan menyelenggarakan pendidikan di luar ruangan. Para santri terbiasa belajar atau praktik di tepi pantai atau di bawah pohon bersama tenaga didik.Salah satu usaha yang dilakukan oleh sarjana agama jurusan bahasa arab lulusan Institut Agama Islam Negri Makasar (IAIN) ini adalah usaha pengembangan agribisnis. Komoditi yang dikembangkan adalah kakao ( Theobroma cacao ) dan jarak pagar ( Jathropa cinensis ). Usahanya ini pula yang membawa ponpes Uswatun Hasanah menjadi salah satu Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3) dibawah naungan Direktorat Jenderal Pengolahan Pemasaran Hasil Pertanian, Departemen Pertanian. Pondok diharapkan dapat menjadi agen pembangunan agroindustri pedesaan yang berada di Pulau Buru khususnya, ujar Hairia, pendamping LM3.
Bahkan, agribisnis pondok kini jadi penggerak ekonomi masyarakat sekitarnya. Pondok Pesantren Uswatun Hasanah kayeli bekerjasama dengan para santri, alumni, masyarakat di sekitar pondok untuk menggunakan dana yang diberikan oleh Dirjen PPHP mengembangkan tanaman jarak pagar ini. Minat masyarakat sangat tinggi untuk bergabung bersama dalam dalam kegiatan pondok, tambah Hairia. Sebagai kelanjutan dari program agribisnis pondok adalah dengan menjalin kerja sama dengan salah satu perusahaan pengadaan mesin pengolahan jarak pagar menjadi biodisel. Dengan kerja sama itu, kini pondok telah memiliki mesin filter dan penyaring biji jarak serta mesin pembuatan biodisel. Mohon doa dari para pembaca semua semoga kami dapat maju bersama mengangkat derajat kualitas hidup di desa-desa tertinggal dan mampu memutuskan ketergantungan pada bahan bakar fosil, ujar Hairia.
BERITA LM3
Rabu , 30/05/2007
Departemen Pertanian Alokasikan Rp 250 Miliar
Departemen Pertanian (Deptan) tahun ini akan memfasilitasi sebanyak seribu unit lembaga mandiri yang mengakar (LM3) di seluruh Indonesia.Untuk itu, tahun ini telah dialokasikan dana sebesar Rp250 miliar. ��Dana diambilkan dari dana APBN dan merupakan dana hibah,� ujar Menteri Pertanian (Mentan) Anton Apriyantono di Jakarta, kemarin.
Mentan menjelaskan, pada awalnya pengembangan LM3 ini dilakukan sejak diterbitkannya Surat Keputusan (SK) Bersama antara Menteri Pertanian dan Menteri Agama No 346 dan No 94 Tahun 1991.LM3 merupakan pondok pesantren. Namun, sejak 1996,sasaran pembinaan LM3 lebih dikembangkan lagi, seperti seminari,paroki,pasraman, wihara,dan subak. Sebelumnya,tuturAnton,pemerintah juga telah memfasilitasi sekitar 400 unit LM3 yang tersebar di seluruh Indonesia. Pada 2006, LM3 yang difasilitasi mencapai 338 unit. Banyaknya LM3 yang akan difasilitasi itu tak lepas dari keberhasilan pondok pesantren dan lembaga kemasyarakatan lainnya dalam pengembangan agrobisnis. Program ini sangat bermanfaat bagi masyarakat.LM3 ini sangat mendorong untuk usaha agrobisnis. Pondok pesantren bisa mandiri,masyarakat sekitarnya juga bisa belajar dari program ini,�paparnya. Menurut Mentan, lembaga masyarakat yang ingin mendapatkan dana dari program ini agar segera mengajukan proposal kepada Dinas Pertanian setempat. Dari proposal itu,akan dilihat apakah layak mendapatkan bantuan atau tidak. Mentan menambahkan, program ini sangat diminati masyarakat. Sebab, hingga saat ini, proposal yang masuk sudah sekitar 4.000. Dari jumlah proposal sebanyak itu akan dipilih 1.000 proposal saja. Tapi jangan khawatir, program ini akan berlangsung terus selama saya berada di kabinet. Setiap tahun, saya menargetkan seribu unit LM3 yang mendapat dana dari program ini, ujar Mentan. Pada kesempatan itu, Mentan juga menyatakan,bantuan permodalan ini hanya akan diberikan satu kali untuk tiap lembaga. Setiap lembaga akan diberikan dana sekitar Rp100 juta hingga Rp350 juta, tergantung dari jenis usaha dan kebutuhannya. Sementara itu, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Deptan Ato Suprapto menambahkan, pihaknya telah menetapkan kriteria untuk lembaga masyarakat yang mengajukan diri mendapatkan dana LM3 ini.
Salah satu kriteria itu adalah lembaga itu harus mempunyai pengurus dan memiliki lapangan usaha. Ato mencontohkan,sebuah lembaga harus memiliki sejumlah lahanpertanianataupeternakanagar mendapatkan dana itu. Jika lembaga tersebut tidak memiliki lahan maupun pengurusnya, tidak akan diberi dana.





Rabu, 17 Desember 2008

> KOMUNIKASI ORGANISASI

Teori Struktural Klasik
Komuniakasi Oraganisasi
Anggapan Dasar Teori KlasikPandangan teori klasik mengenai organisasi berdasarkan asumsi sebagai berikut :1. Organisasi ada terutama untuk menyelesaikan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.2. Bagi suatu organisasi, ada struktur yang tepat bagi tujuan, lingkungan, teknologi dan partisipannya.3. Pekerjaan organisasi paling efektif bila ada tantangan lingkungan dan kepentingan pribadi terhalang olehnorma-norma rasionalitas.4. Spesialisasi akan meningkatkan taraf keahlian dan performan individu.5. Koordinasi dan control paling baik melalui praktek otoritas dan aturan-aturan yang tidak bersifat pribadi.6. Struktur dapat dirancang secara sistematis dan dapat dilaksanakan.7. Masalah-masalah organisasi biasanya merefleksikan struktur yang tidak tepat, dan dapat diselesaikan melalui perancangandan pengorganisasian kembali ( Bolman, 1988 )Unsur kunci teori klasikAda empat kunci dari teori klasik :Pembagian kerja, adalah bagaimana organisasi membagi sejumlah pekerjaan terhadap tenaga kerja yang ada dalam organisasi.Hierarki proses fungsional, adalah setiap organisasi terdapat adanya tingkatan karyawan menurut fungsinya atau pekerjaan yang khusus dalam organisasi.Struktur, adalah jalinan hubungan dan peranan dalam organisasi. (Lini dan Staf)Pengawasan yang ketat, pada organisasi yang tinggi strukturnya menghendaki banyak saluran komunikasi dalam melakukan pengawasan. Sedangkan pada organisasi yang strukturnya mendatar tidak banyak diperlukan saluran komunikasi.
Organisasi SosialBerlo (1960) menyarankan bahwa komunikasi berhubungan dengan Organisasi Sosial dengan tiga cara :Pertama, sistem sosial dihasilkan lewat komunikasi. Keseragaman perilaku dan tekanan untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma dihasilkan lewat komunikasi diantara anggota-anggota kelompok.Kedua, bila suatu sistemsosial telah berkembang, ia menentukan komunikasi anggota-anggotanya. Sistem sosial mempengaruhi bagaimana, ke, dan dari siapa, dan dengan pengaruh bagaimana komunikasi terjadi diantara anggota-anggota sistem.Ketiga, pengetahuan mengenai suatu sistem sosial dapat membantu kita membuat prediksi yang akurat mengenai orang-orang tanpa mengetahui lebih banyak daripada peranan-peranan yang mereka duduki dalam sistem.
Organisasi FormalKita akan membahas ciri-ciri khas organisasi formal – yang secara populer disebut birokrasi – untuk memahami ciri-ciri penting sistem yang formal.Karakteristik Birokrasi WeberianApakah ciri-ciri suatu organisasi terbirokratisasikan yang ideal ? Analisis atas karya Weber memberikan sepuluh ciri berikut ini :Satu Suatu organisasi terdiri dari hubungan-hubungan yang ditetapkan antara jabatan-jabatan. Blok-blok bangunan dasar dari organisasi formal adalah jabatan-jabatan.Dua Tujuan atau rencana organisasi terbagi kedalam tugas-tugas; tugas-tugas organisasi disalurkan di antara berbagai jabatan sebagai kewajiban resmiTiga Kewenangan untuk melaksanakan kewajiban diberikan kepada jabatan. Yakni, satu-satunya saat bahwa seseorang diberi kewenangan untuk melakukan tugas-tugas jabatan adalah ketika ia secara sah menduduki jabatannya.Empat Garis-garis kewenangan dan jabatan diatur menurut suatu tatanan hierarkis. Hierarkinya mengambil bentuk umum suatu piramida, yang menunjukkan setiap pegawai bertanggung jawab kepada atasannya atas keputusan-keputusan bawahannya serta keputusan-keputusannya sendiri.Lima Suatu sistem aturan dan regulasi yang umum tetapi tegas, yang ditetapkan secara formal, mengatur tindakan-tindakan dan fungsi-fungsi jabatan dalam organisasi.Enam Proesedur dalam organisasi bersifat formal dan impersonal – yakni, peraturan-peraturan organisasi berlaku bagi setiap orang. Jabatan diharapkan memiliki orientasi yang impersonal dalam hubungan mereka dengan langganan dan pejabat lainnya.Tujuh Suatu sikap dan prosedur untuk menerapkan suatu sistem disiplin merupakan bagian dari organisasi.Delapan Anggota organisasi harus memisahkan kehidupan pribadi dan kehidupan organisasi.Sembilan Pegawai dipilih untuk bekerja dalam organisasi berdasarkan kualifikasi teknis, alih-alih koneksi politis, koneksi keluarga, atau koneksi lainnya.Sepuluh Meskipun pekerjaan dalam birokrasi berdasarkan kecakapan teknis, kenaikan jabatan dilakukan berdasarkan senioritas dan prestasi kerja.
Komunikasi Jabatan dan Hubungan InformalCiri-ciri suatu organisasi formal berkaitan dengan suatu fenomena yang disebut komunikasi jabatan (posisitional communication) (Redfield, 1953). Hubungan dibentuk antara jabatan-jabatan, bukan antara orang-orang. Keseluruhan organisasi terdiri dari jaringan jabatan. Mereka yang menduduki jabatan diharuskan berkomunikasi dengan cara yang sesuai dengan jabatan mereka. Sekalipun demikian, dalam praktek komunikasi jabatan ini membingungkan, karena tidak semua jabatan dan interaksi secara saksama sesuai dengan diagram jabatan. Meskipun analisis Weber tentang teori organisasi dapat menguraikan banyak organisasi yang beroperasi dewasa ini, sejumlah pemikiran dan teori lain memberikan sumbangan untuk memahami cara kerja organisasi, dan khususnya, komunikasi organisasi. Dua jenis teori, disamping teori kominikasi, memberikan pandangan yang berguna, yakni teori manajemen dan teori organisasi. Terkadang para penulis membuat sedikit perbedaan antara teori pengelolaan (managing) dan teori pengorganisasian (organizing) karena kedua teori itu sering sangat mirip, tetapi terkadang berbeda. Kita akan menguraikan teori klasik manajemen secara ringkas, teori yang sesuai dengan teori formal Weber mengenai organisasi.Manajemen Ilmiah TaylorTeori Weber mengenai birokrasi berforkus terutama pada pengorganisasian; teori itu dianggap sebagai pernyataan terpenting tentang organisasi formal, namun mungkin juga benar bahwa semua teori organisasi pada dasarnya adalah teori pengelolaan. Secara bersama-sama Weber dan Taylor menyajikan teori-teori organisasi dan manajemen yang hampir secara khusus membahas anatomi organisasi formal yang dapat disebut sebagai teori-teori struktural klasik. Pendekatan Taylor terhadap manajemen dilakukan di sekitar empat unsur kunci: pembagian kerja, proses skalar dan fungsional, struktur, dan rentang kekuasaan. Menggunakan analisis Sofer (1972), kita akan membahas keempat pokok tersebut secara ringkas.Pembagian kerja menyangkut bagaimana tugas, kewajiban dan pekerjaan organisasi didistribusikan. Dalam pengertian birokratik, kewajiban perusahaan secara sistematis dibebankan kepada jabatan-jabatan dalam suatu tatanan spesialisasi yang menurun. Taylor menyatakan bahwa pekerja harus dibebaskan dari tugas perencanaan dan kegiatan tata usaha.Proses skalar dan fungsional berkaitan dengan pertumbuhan vertikal dan horisontal organisasi. Proses skalar menunjukkan rantai perintah atau dimensi vertikal organisasi. Dengan memperoleh dua asisten, manajer telah memperbesar ukuran organisasi secara vertikal, menciptakan perubahan-perubahan dalam pendelegasian kewenangan dan tanggung jawab, kesatuan perintah, dan kewajiban melapor.Struktur berkaitan dengan hubungan-hubungan logis antara berbagai fungsi dalam organisasi. Teori-teori klasik berfokus pada dua struktur dasar yang disebut Lini dan Staff.Lini. Nilai dasar yang membedakan Lini dengan Dasar terletak pada wilayah pembuatan keputusan. Isitlah lini berarti bahwa kewenangan terakhir terletak pada jabatan-jabatan dalam struktur.Staf. Tenaga staff secara tradisional memberi nasihat dan jasa untuk membantu lini. Lini mempunyai otoritas komando. Staff memberikan nasihat dan melakukan persuasi dalam bentuk usulan-ususlan, namun tidak mempunyai kewenangan untuk memeberikan perintah kepada manajer lini untuk mengikuti usulan-usulan tersebut.Struktur Tinggi dan Struktur Datar Terdapat berbagai bentuk struktur organisasi, namun pada dasarnya terbagi dua: struktur tinggi atau vertikal dan struktur datar atau horisontal. Tingginya atau datarnya suatu organisasi ditentukan oleh perbedaan dalam jumlah tingkatan kewenangan dan variasi dalam rentang pengawasan (span of control) pada setiap tingkat.Rentang Pengawasan (Span of Control) menunjukkan jumlah bawahan yang berada dibawah pengawasan seorang atasan. Meskipun sering dinyatakan bahwa jumlah bawahan yang dapat diawasi seorang manajer adalah lima atau enam orang, dalam prakteknya, rentang pengawasan tersebut bervariasi.